Thursday, May 21, 2020

New Normal Life? Jadi Selama Ini Nggak Normal?

New Normal Life? Jadi Selama Ini Nggak Normal? Selama ini kita hidup dengan cara yang nggak normal? Kalau istilah ini muncul di zamannya Presiden Soekarno, aku setuju banget. Tapi kalau munculnya di era Presiden Jokowi sekarang, faktanya kebiasaan yang dianggap nggak normal dulu itu udah berlangsung selama puluhan tahun. Terus siapa yang nggak normal sih?

Abang jual bakso. jualan bakso yang ditambahin formalin? Ditambahin pake saos berformalin? Saos yang dibikinnya pakai pepaya busuk, cabe busuk sama diinjek pakai kaki? Ayamnya, ternyata ayam tiren? Daging sapinya, daging gelonggongan? Yang dipasar, dijual dibiarin doang dirubungin laler-laler gede warna ijo? Terus, abang baksonya garuk titit, tapi belum cuci tangan. Habis itu, layanin pelanggannya? Terus pelanggannya, bayar pake duit yang diambil dari teteknya? Lalu pesen es teh, yang esnya dibikin dari air mentah, yang bekas buat ngawetin ikan di kapal laut? Makan bakso nggak pakai cuci tangan, padahal habis berkendara jauh? Pun dia naik motor tapi nggak pake helm? Udah tau di lampu lalu lintas harus berhenti dibelakang garis berhenti, tapi malah berhenti setelah garis batas berhenti? Masih mending, kadang udah tau lampu merah tapi masih nyelonong aja pura-pura nggak ngerti? Terus apa Definisi New Normal Life?

Definisi New Normal

Pengertian dan Definisi New Normal Life
Sumber: Pixabay

Menurut Wiku A. (Ketua Penangan Covid-19 deh pokoknya), New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Dikutip dari kompas.com

Jadi, New Normal ini cuman diterapkan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 doang ya? Okelah, ya kalau memang kemana-mana harus pake masker, bawa sanitizer, nggak masalah. Dan tetep aja kalau ngendarian motor nggak pake helm nggak masalah dong ya? Yang penting pake masker, yang walaupun bener juga kata Indira Khalista kalau pake masker ini bikin susah bernafas, nggak plong. Tapi tetep... harus pake masker demi menjalankan protokol kesehatan. Kalau naik motor pakai helm, itu bagian dari protokol keselamatan. Jadi beda jauh ya, harus dipahami itu.

Karena faktanya, zaman sekarang orang lebih takut nggak pake masker dari pada nggak pake helm. Pun aku juga gitu, kalau misalnya mau isi galon deh, kan deket rumah ya, aku nggak pakai helm lah. Karena itu normalnya orang-orang di Indonesia. Ah cuman deket doang situ, ngapain pake helm. Toh juga malem-malem, nggak bakalan ada polisi. Nggak bakalan ada razia juga. Nggak bakalan ada polisi juga. Tapi karena harus ngelewatin pos covid-19, yang dijaga 24 jam non stop, jadinya mau nggak mau ya harus pake masker. Kalo nggak pake masker, disuruh balik ke rumah buat ambil masker dulu. Padahal jelas, aku nggak pake helm. Dan itu nggak ada pernah orang mengingatkan. Pun juga semuanya udah tau itu, pakai helm adalah hal yang wajib karena merupakan bagian dari kelengkapan yang harus dipakai ketika berkendara.

Akan Sampai Kapan? Mendingan Normal Life Aja Deh?

Pengertian dan Definisi New Normal Life
Sumber: Pixabay

Menurut Wiku lagi, prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup. "Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus beradaptasi dengan beraktifitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah".  Dikutip dari kompas.com

Halo Pak Wiku, pernah ke daerah lain selain di Jakarta nggak sih? Eh lagi PSBB o ya. Jadi ya nggak mungkin pernah kemana-mana ya. Emmm gini deh, pernah nggak sih lihat video atau foto tentang cerminan apa yang disebut sebagai bagian dari Normal Life? Contohnya di tempat tinggal ku, yang namanya menghindari kerumunan adalah suatu hal yang mustahil banget. Apa-apa yang ada di Indonesia kayaknya serba kurang deh. Karena nggak sebanding dengan jumlah warga negaranya yang berjuta-juta kali lipat dibanding fasilitas yang ada. 

Contoh, waktu itu aku ke Bank yang menerapkan social distancing atau physical distancing atau apalah istilahnya itu. Bank BUMN nih. Intinya, bank ini "berusaha" menerapkan protokol kesehatan. Tapi, cuman di dalem ruangan banknya doang. Jaraknya di atur, nggak ada berdesakan, semua orang harus pake masker, yang bisa masuk ke dalem bank cuman beberapa orang doang. Tapi hal tersebut, enggak berlaku di luar bank. Bank ini, kayaknya melayani beberapa Kecamatan. Jadi, nggak setiap kecamatan ada cabangnya. Pun ada beberapa cabang yang terpaksa harus ditutup dan dialihkan ke cabang lainnya. Jadi, pengunjungnya sangat membludak. Banyak banget karena mendapat limpahan pelanggan dari yang biasanya ke cabang yang tutup. 


Okelah yang di dalem bank bisa menerapkan protokol kesehatan. Yang di luar bank ngapain? Antri kepanasan? Nyari tempat berteduh yang adem? Ya semuanya juga pengen yang adem. Akhirnya nggak jadi physical distancing lah. Yakinlah, protokol kesehatan tuh kayak hal bulshit doang. Itu yang antri, di luar tidak physical distancing. Terus pas giliran nomer antriannya masuk, ya masuk lah dia ke dalem bank. Terus apa gunanya protokol kesehatan kalau ternyata menaruhkan nama baik pelayanan dan feedback dari pelanggan? Karena percuma. Mendingan kembali seperti biasanya aja deh. Daripada nyusahin orang banyak. Toh dulu selama puluhan tahun juga nggak kenapa-kenapa kan? Kalau ada yang bilang virus bermutasi, emangnya daya tahan tubuh manusia nggak bermutasi juga ya? Terus kalau sama-sama bermutasi, apa masalahnya deh?

New Normal Life Tidak Akan Berhasil?

Pengertian dan Definisi New Normal Life
Di Dalem Bank, Memang Sih Menerapkan Protokol Kesehatan. Di Luar Bank, Enggak. Ketika Antrian Dipanggil, Yang Enggak Menerapkan Protokol Kesehatan Ini, Masuk ke Dalem Bank.

Kembali lagi ke bank, yang antri di luar bank, kebanyakan orang yang enggak menerapkan protokol kesehatan itu semua. Terus dia masuk ke bank. Okelah yang di dalem pun termasuk semua pegawi bank betul-betul menerapkan protokol kesehatan. Tapi dia bisa kemasukan orang-orang yang sama sekali nggak peduli sama yang namanya protokol kesehatan. Lantas apa gunanya protokol kesehatan? Soalnya, terlalu banyak orang yang nggak peduli. 

Karena new normal ternyata tidak normal. Yang normal ya yang kayak biasanya. Kayak yang udah ku sebutkan di atas, yang bagian abang tukang bakso dan seterusnya. Jujur aja ya aku nggak suka dengan penerapan protokol kesehatan yang berlebihan kayak sekarang ini. Jangan ambil kasus lain dulu, pakai aja contoh pelayanan bank yang ku sebutkan di atas. Sangat tidak nyaman sekali kalau harus antri di luaran yang panasnya keterlaluan, pun tempat berteduh isinya orang antri semua. Biasanya, mau berapa pun yang antri, minimal bisa masuk ke dalam bank, antri di dalem nggak kepanasan. Walaupun kalau rame banget, acnya nggak kerasa. Tapi seenggaknya ada tempat untuk berteduh. Lah ini cuk, gara-gara protokol kesehatan nggak jelas gini, pelanggan bank harus panasan di luar bank dan nggak peduli physical distancing.

Wiku menerangkan, secara sosial disadari bahwa hal ini akan berpengaruh. Pasalnya, ada aturan yang disebutkan dalam protokol kesehatan untuk menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Dikutip dari kompas.com

Fasilitas Publik di Indonesia Tidak Memadai Untuk New Normal Life

Pengertian dan Definisi New Normal Life
Sumber: Tribunnews

Itu baru ngomongin bank doang. Gimana pasar? Pusat perbelanjaan? Mall? Bioskop? Apa kabar semuanya? Fasilitas di Indonesia tuh masih kurang banyak. Nggak sebanding sama jumlah penduduknya. Jadi, mau menerapkan physical distancing macam apa sih pemerintah tuh? Selama fasilitasnya segitu-gitu aja, yakinlah nggak akan berhasil. Percayalah, ini semua yang disebut protokol kesehatan, new normal, nggak akan berjalan sesuai dengan apa yang dicanangkan pemerintah. Opini ku gitu ya. Melihat kenyataan yang ada sekarang. Cafe-cafe ya tetep aja masih rame. Walaupun mungkin nggak serame dulu. Mall.... baru buka, langsung jadi lautan manusia. Lihat aja ntar kalau bioskop buka, pasti dia bakal bikin promo gila-gilaan dan semua orang kembali nonton bioskop. Berdekatan dan tidak physical distancing. Pun orang yang nggak pernah sama sekali ke bioskop, mungkin bakalan ngerasain namanya nonton bioskop untuk pertama kalinya, karena promo gila-gilaan yang mungkin bakalan pengusaha bioskop buat.

Ku sebut clue aja ya, nggak usah ngomongin panjang lebar. Gimana pemerintah mau berusaha mengurangi kontak fisik dengan orang lain? Naik KRL aja begitu? Angkot? Bus? Angkudes? Ah elaaah... Indonesa belum siap kalau mau physical distancing menghindari kontak fisik dengan orang banyak. Ngimpi dulu aja, jangan diterapkan sekarang. Bikin kesel doang! Itu kenyataan yaaaa...

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md. memberi penjelasan soal kehidupan normal baru atau new normal life di tengah Covid-19. “Presiden mengajak diskusi, ini kita harus berdamai dengan Corona, artinya kita enggak pernah tahu Corona kapan berakhir, masa kita harus bersembunyi begitu terus, protokol Covid-19 akan tetap dijalankan dalam new normal life. Contohnya, tidak bersalaman tangan ketika bertemu. Lalu, memakai masker di luar ruangan. Di supermarket, contohnya, jumlah pembeli dibatasi dengan penjagaan polisi. Maka dengan cara seperti itu pemerintah ingin aktivitas kehidupan masyarakat mulai berjalan kembali di tengah wabah Covid-19" Kata Mahfud Md. Dikutip dari nasional.tempo.co

Corona: Hoaks Terbesar dan Terbaik Abad Ini

Mungkin ini salah satu langkah untuk mengembalikan kehidupan ke kehidupan yang semestinya. Istilah New Normal Life akan menguap ketika berita udah nggak bahas corona lagi. Ke supermarket, harus pake masker, dijaga polisi dan dibatasi pengunjungnya, biar nggak berdesakan. Teori darimana sih ini? Yang punya mall ya maunya mallnya rame. Membludak pengunjungnya, berdesak-desakan, sana-sini lantas basement sampai atas pengunjung semua, yang artinya duit semua. Seperti yang udah ku bilang tadi, kalau mau bener-bener diterapkan, Supermarket, Mall di Indonesia tuh kurang. Masyarakat di Indonesia tuh pada suka belanja, pada suka ngemall. Nggak yang ngaku kaya, nggak yang pura-pura miskin, semuanya pada suka belanja. Pun termasuk orang-orang yang dapet bantuan-bantuan dari pemerintah, semuanya suka belanja. Lagian menurut ku, salah pemerintah juga sih ya. Orang nggak kerja, nggak ngapa-ngapain, malah dikasih duit terus. Duitnya buat apa? Ya buat belanja lah.

Kalau istilah New Normal Life bener-bener bakalan diterapkan di Indonesia, yang artinya kehidupan kita yang dulu akan dianggak bukan kehidupan yang normal lagi, aku rasa nggak akan berjalan dengan sempurna. Apalagi kalau masyarakat masih nggak bisa mengikuti apa arahan pemerintah. Soalnya, orang Indonesia itu maunya hidupnya diurusin negara. Tapi nggak mau ngikutin aturan pemerintah. Ya gimana, contoh di atas penyebabnya. Fasilitasnya masih kurang banget. Terus mau maksa kerja di rumah, sekolah di rumah dan ibadah di rumah terus? Nggak akan berhasil deh, berani ku jamin.

Aku sih berharapnya, ini istilah tai yang nambah satu setelah adanya WFH, PFH, SFH, PSBB, Social dan Physical Distancing, yaitu New Normal Life. Yang hanya akan jadi batu loncatan untuk menyimpangsiurkan keadaan alay yang hadir karena corona alay ini. Aku berharapnya corona ini adalah hoaks terbesar dan terbaik abad ini, pemerintah kita kena hoaksnya, kita semua kena hoaksnya. Dan ini, New Normal Life akan jadi batu loncatan untuk keluar dari hoaks itu semua. Untuk menuju kehidupan yang semestinya, menuju kehidupan yang normal. Tanpa ada new di depannya. Jadi, mari kita ikuti anjuran pemerintah, sebisa mungkin, sampai bosan, sampai kehidupan kembali seperti sedia kala. Sampai berita nggak lagi menggunakan Corona sebagai jualannya.

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Back to Top