Jumat, 20 Maret 2020

Dampak Positif Coronavirus di Indonesia


Kalau mau dipikir lebih mendalam, ternyata nggak sedikit Dampak Positif Coronavirus di Indonesia. Coronavirus (Virus Corona) atau dikenal juga dengan COVID-19, untuk saat ini merupakan hal yang sangat masif dibahas di dunia pernetizenan maupun pergunjingan emak-emak. Entah karena emang virus ini sebegitu menakutkan dan mematikannya, seperti yang dibahas hampir seluruh media di Indonesia, atau ini hanya gimik semata, sejujurnya aku nggak ngerti. Yang jelas, banyak Dampak Positif yang ditimbulkan dengan adanya wabah Coronavirus di Indonesia ini. Ndas mu! Dampak positif gimana, wong virus mematikan gini kok dibuat maian!!! Oke, mari dipikir lebih mendalam…

Coronavirus (Virus Corona) ini kalau dari aku baca-baca masih saudaraan sama Virus Sars, Mers yang udah pernah trending duluan. Naaah… karena mereka saudaraan, ketiga virus tersebut adalah virus yang sama-sama menyerang sistem pernapasan manusia. Penyakit yang ditimbulkan akibat terpaparnya virus ini disebut dengan sebutan COVID-19. Karena COVID-19 nggak banyak pencariannya di google, banyakan nyebutnya Corona, habis ini bakalan ku persingkat nyebutnya dengan nama Corona aja.

Naaah… karena si Corona menyerang atau menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan manusia, makanya akan banyak timbul permasalahan kesehatan lain kalau seseorang terpapar virus ini. Ya gimana ya, wong susah nafas, nafasnya terganggu, intinya kan pasokan oksigen yang seharusnya masuk ke dalam tubuh juga terganggu. Jadi, ya wajar-wajar aja kalau ujung dari corona ini adalah kematian. Sebenernya, tanpa Corona pun, kalau jalan nafas mu dibungkam dalam waktu yang cukup lama, bakalan mati juga sih ya ujung-ujungnya. Karena hal tersebut, aku jadi mikir "Terus apa yang harus ditakutin dari Corona ini sih sebenernya?". Padahal seharusnya kita seneng, walaupun Corona ini banyak digaungkan dampak negatifnya, tapi menurutku ada aja tuh yang kalau dipikir merupakan Dampak Positif Coronavirus di Indonesia.

Ciri-Ciri Virus Corona (Coronavirus)

Sebelumnya, aku mau ngasih tau sedikit tentang gejala-gejala corona atau ciri-ciri corona yang kemungkinan akan timbul atau apa yang akan dialami oleh orang yang ada kemungkinan terpapar si Corona ini. Ini ku sadur dari website WHO yang merupakan badan atau organisasi kesehatan dunia yang udah di translate ke dalam Bahasa Indonesia. Pada intinya, di sana tertuliskan gejala atau orang-orang akan mengalami Pilek, Sakit Tenggorokan, Batuk, Demam dan Kesulitan Bernafas (Kasus yang parah). Menurut ku, ini gejala yang terlalu general, nggak spesifik sama sekali. Seinget ku, kayaknya hampir setiap tahun aku pasti mengalami hal-hal tersebut di atas. Apalagi aku kelelawar ya, pola tidur ku sangat-sangat tidak baik. Melek malem, tidur pagi, bener-bener bangun jam 8 jam atau jam 9 lah. Yang mana sebenernya kita juga tau kalau regenerasi sel-sel tubuh manusia itu terjadi saat kita tidur malam. Nah masalahnya, tidur ku pagi. Jadi, bisa disimpulkan sendiri lah ya.

Maka dari itu, aku lumayan sering mengalami yang namanya pilek, sakit tenggorokan, batuk sama demam juga. Ya walaupun nggak sampai kesulitan bernafas sih. Tapi, sebelum Corona ini alay dimana-mana, gejala-gejala di atas adalah gejala biasa yang akan ku alami saat musim-musim sedang tidak bersahabat atau jam tidur ku benar-benar sangat berkurang. Nah kalau sekarang, pun saat tulisan ini ku buat, aku sedang mengalami tenggorokan yang rasanya panas, nggak enak, gatel-gatel; sesekali batuk; pilek sih enggak sampek yang meler-meler gitu, cuman berasa ada yang menghambat laju nafasaku aja tuh. Dan ketika Corona mulai alay gini, aku jadi merasa kena Corona lah. Padahal sebelum Corona ini alay, kayak gitu tuh adalah hal biasa yang ku alami. Obatnya cuman tiduran doang, perbanyak istirahat terus minta dikerokin dan minum tolak angin. Udah, paling sehari dua hari udah balik seperti semula. Ada yang sama mengalami atau merasakan gitu juga?

Korban Coronavirus (Virus Corona)

Waktu itu malah aku pernah tidur selepas jam 5 pagi, terus mulai aktivitas kembali di jam 9 pagi dan terus beraktivitas sampai ketemu jam 5 pagi lagi selama sekitar 7 hari terus menerus berturut-turut tanpa terputus. Hasilnya apa? Semua gejala yang disebutkan di website WHO ditambah mutah-mutah dan sering-sering ke kamar mandi buat mencret atau sekedar buangin angin ditambah feses yang cuman sekali dua kali tembak. Aku jadi merasa sudah menikmati Corona sejak dini lah. Ciri-cirinya sama sih soalnya. Eh ini kenapa jadi curhat gini sih ya?

Aslinya aku nggak mau curhat, tapi yaudahlah. Udah ku ketik panjang-panjang masa tak hapus gitu aja. Kan eman-eman ya. Jadi, yaudahlah kita ganti paragraf aja lah yuk daripada curhatan ku semakin menjadi-jadi.

Penyebaran Coronavirus (Virus Corona)


Kalau melihat dari yang ku alami di atas dan memberi perhatian lebih kepada ciri-ciri atau gejala Corona, kayaknya Corona Virus di Indonesia udah ada sejak lama. Nggak cuman aku sih, mungkin kamu yang baca tulisan ini juga sering mengalami hal tersebut di atas. Paling yang enggak, cuman sesak nafasnya doang kan ya? Tapi kalau sesak nafas sih mungkin bisa aja timbul ketika kamu mengalami hal yang kayak ciri-ciri Corona di atas, sementara berat badan mu berlebih. Jadi susah nafas juga. Ya nggak sih?

Jadi, hal kayak gitu-gitu udah lekat sama kehidupan masyarakat Indonesia yang penjual makanan habis terima duit langsung nyiapin dagangannya buat pelanggan selanjutnya, tanpa cuci tangan pake sabun, cuman lap-lap di serbet yang udah dipake ratusan kali. Pedagang yang habis garuk-garuk tititnya, tanpa cuci tangan langsung jualin dagangan yang kamu beli waktu SD dulu. Atau keringet pedagang yang udah menjelajahi panasnya jalanan, nggak sengaja masuk ke es teh yang kamu beli. Atau pedagang yang habis ngupil ngeleletin upilnya di gerobak dagangannya. Atau parahnya lagi, saos yang kita makan adalah saos yang dibikin dengan injakan kaki yang belum cuci kaki ditambah dengan pewarna tekstil. Atau es batu yang dibuat dari air mentah yang diambil dari bekas es batu buat ngawetin ikan di kapal. Dan kita-kita nggak mati sampai sekarang. Pun aku juga masih bisa bikin tulisan ini.

Berita Virus Corona

Tapi sejak berita virus corona yang masif di semua media, berita virus corona yang alay-alay pada naik ke halaman pertama pencarian google atau berita virus corona yang sangat menakutkan bermunculan di sosial media atau story orang-orang yang kamu follow, corona jadi barang menakutkan yang emang bener bisa bikin orang parno. Apalagi ciri-ciri atau gejala corona yang selama ini kita tau nggak jauh beda dibanding gejala flu yang rasa-rasanya hampir setiap orang Indonesia udah nggak asing lagi dengan penyakit tersebut. Malah bisa dikatakan sangat bersahabat dengan flu. Jadi, kalau sekarang kena flu langsung parno mengarah "Ah, jangan-jangan aku kena corona nih" atau "Awas hati-hati, orang itu kena corona soalnya dia batuk-batuk, pilek, kayak orang kena corona".

Hey, ingatlah, sebelum ada Corona kita semua warga masyarakat +62 hal kayak gitu tuh cuman masuk angin. Obatnya kerokan, minum tolak angin sama bed rest di rumah. Kenapa sekarang ada corona semuanya jadi alay-alay begini? Sampai menimbulkan efek domino yang nggak masuk akal, cuman gegara si corona ini. Kan ALAY! Asu si corona ini!

Ditambah media, sosial media, orang-orang yang kamu follow selalu memberikan kabar "Korban Virus Corona" di suatu tempat. Apalagi kalau itu nggak berjarak jauh dari tempat tinggal mu. Terlebih lagi kalau judulnya "Korban Viris Corona Bertambah". Ah pokoknya gitu deh. Apalagi yang baca berita atau tulisan adalah orang yang usianya udah 60 tahun ke atas yang dimana berita hampir selalu mengarahkan kematian kepada penderita yang udah berusia 60 tahunan. Kan Asuu. Headline yang ku benci adalah headline yang menakut-nakuti. Media tuh bukannya mengedukasi masyarakat supaya melawan si virus alay ini, eh malah menakuti maysarkat dengan berita penambahan jumlah korban virus corona di dekat tempat tinggal yang baca. Kan Asuu!!!

Dampak Positif Coronavirus di Indonesia

Tapi dari keasuan yang ditimbulkan si Corona Alay ini, nyatanya nggak sedikit dampak positif yang ditinggalkan sama si Corona. Dampaknya pun langsung sedikit banyak bisa ku rasakan langsung. Diantaranya adalah:

1. KRL, Stadion, Kantor, Tempat Ibadah disemprot desinfektan

Selama hidup ku, baru kali ini aku lihat KRL disemprot desinfektan dan dibersihkan sampai sebegitunya. Pun dengan Stadion, Kantor, Tempat ibadah dan tempat atau fasilitas publik lainnya disemprot desinfektan. Baru aku menjumpainya saat virus corona alay ini merebak. Biasanya, yang ku tau disemprot desinfektan cuman kandang ayam waktu mau dan setelah panen. Ini gila sih, sebegitu perhatiannya si pengelola aset atau fasilitas publik membersihkan fasilitas atau aset yang dia kelola. Biasanya pada cuek-cuek aja yang penting cuan jalan terus. Ketika corona alay ini merebah semuanya serba dirawat dan dibersihkan. Salut sih aku. Kayaknya setelah corona alay ini mereda, harus tetap dilaksanakan ya hal baik tersebut?

Sumber: Instagram @Semarangexotic

2. Budaya Cuci Tangan jadi Kebiasaan

Ini aku rasain sendiri langsung sih. Biasanya aku paling cuek mau makan kalau nggak megang yang kotor-kotor banget yaudah langsung makan aja. Pun kalau cuci tangan, ya pakai air doang. Air kobokan, siapa yang nggak kenal deh? Budaya cuci tangan kita sebelum adanya corona alay ini, cuci tangan ya pakai air kobokan. Nggak ada tuh istilah hand sanitizer, mencuci tangan menggunakan sabun atau bahkan dengan air yang mengalir. Adanya cuman mencuci tangan menggunakan kobokan yang disediain mbak-mbak di SS atau lamongan.

Karena makannya pakai tangan langsung tanpa bantuan sendok, baru deh setelah makan, cuci tangannya pakai sabun di alir yang mengalir. Gegara corona alay ini, aku kalau makan di SS atau di lamongan, cuci tangannya di wastafel dan pakai sabun dong. Pun kalau habis pergi keluar rumah, hal pertama yang ku lakukan adalah menuju wastafel atau ke kamar mandi terus cuci tangan pakai sabun. Cuci tangan pakai sabun ya, bukan titit yang disabunin *eh. Ini sesuatu yang baik sih menurut ku. Kayaknya kebiasaan baik ini harus tetap dilanjutkan walaupun media udah nggak nakut-nakutin kita tentang corona alay ini.

Baca Juga: 2020 Menikah Pakai Sistem Zonasi

3. Tempat Ibadah nggak Pakai Karpet

Ini adalah salah satu hal yang ku seneng banget ketika ada corona. Agama yang ku anut mengwajibkan melakukan sembayang sebanyak 5 kali dalam satu hari. Nah, hal yang nggak ku suka adalah karpet yang ada di sana dicucinya cuman setahun sekali waktu beberapa hari sebelum puasa Ramadhan. Kebayang nggak sih betapa kotornya itu karpet. Padahal enakan nggak pakai karpet. Masjid atau Mushola biasanya berhawa adem kan ya, kalau dikasih karpet jadi nggak bisa ngerasain ademnya lantai. Apalagi kalau lantainya pake marmer, beeeh gila, dinginnya bikin betah buat berlama-lama ngerasain adem lantainya.

Apalagi waktu puasa, panas-panas, terus kepala nyentuh lantai yang nggak ada karpetnya, apalagi lantainya dari marmer. Gila sih rasanya kayak merasakan dinginnya surga waktu masih di dunia. Siapa tau aku masuk neraka kan? Seenggaknya udah merasakan dinginnya surga cuk. Kayaknya hal baik ini kudu diterapkan terus deh. Buat apa sih ada karpet di Masjid atau Mushola? Bukannya enakan langsung kena lantai ya? Menurut ku sih gitu ya. Asalkan poin nomer 1 di atas tetap dijalankan ya wkwkwk

4. Belajar dari Rumah

Gegara Corona, hampir semua pelajar dan mahasiswa melakukan kegiatan yang namanya "Belajar di Rumah". Aku jadi yang paling setuju sama program ini. Malah ku rasa, setelah nggak ada Corona, program ini sudah layak diperhitungkan untuk dilanjutkan. Toh sekarang zamannya zonasi, jadi mau nilai berapa pun, sekolah juga deket-deket rumah kan? Lagian lebih enak belajar di rumah sih. Adek ku jadi nggak beli pensil dan penghapus tiap minggu. Soalnya kalau di sekolah, barang-barang tersebut kalau nggak pinter menjaganya bisa jadi langsung pindah tangan dan diaku oleh temen yang lebih pinter menjaganya. Dulu aku juga mengalami hal tersebut.

Ngerjain tugas online, menerima materi juga online. Kalau gurunya sekarang bikin materi berbentuk video yang dikeluarin buat ngajar muridnya. Intinya bikin kayak ruang guru tapi punya kemendikbud dan gratis. Guru juga enak nggak usah ribet-ribet ngajarin ini itu. Toh kalau di sekolah nggak paham, juga guru sekarang udah beda dibanding guru zaman dahulu kan? Jadi ya nggak bisa di salahkan. Zaman sudah berubah sih menurut ku. Apalagi anak cetennial, yang dari lahir langsung ada gadget. Mungkin mereka lebih suka lihat youtube gurunya ngajar dengan ceria, dengan mood dan penampilan yang baik, dibantu animasi yang keren yang lebih disukai. Guru nggak perlu capek teriak-teriak ajarin muridnya.

Kalau yang nggak bisa ngerjain tugas yang diminta atau sulit mengerti tugas yang diminta, baru guru ngajar offline. Paling tinggal ngajarin segelintir anak doang. Nggak semua anak harus diajarin kan? Bukannya mempermudah tugas guru? Pun juga nggak akan ada perundungan di sekolah, wong murid nggak ketemu tiap hari kan? Pun juga nggak ada guru sange yang raba-raba muridnya atau ngewe sama muridnya atau perkosa muridnya. Jadi, sekolah bener-bener kembali ke fitrahnya, menjadi tempat belajar. Belum lagi soal jajanan yang udah ku sebutkan di atas. Kalau belajar di rumah, otomatis makan juga di rumah. Lebih aman dan lebih sehat kan?

Baca Juga: Susu Dijemur di Pantai Padang-Padang

5. Ada yang mau nambahin?

Tulis aja di kolom komentar tentang "Dampak Positif Coronavirus di Indonesia" yang menurut mu layak dilanjutkan setelah badai alay corona berakhir. Ntar aku tambahin. Soalnya, waktu aku ngetik artikel ini, cuman 4 hal di atas yang langsung melintas di pikiran ku.

Salam,

BAYU TAUFANI HARYANTO

Baca Juga: 

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

Back to Top