Kamis, 26 Maret 2020

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Nasi Goreng Termahal yang Pernah ku Makan!


Katanya, Nasi Goreng Kebon Sirih Jakarta udah mulai jualan Nasi Goreng sejak tahun 1958. Itu artinya udah puluhan tahun dan masih tetep jualan Nasi Goreng sampai sekarang. Nama Nasi Goreng Kebon Sirih sendiri diambil dari nama jalan tempat nasi goreng ini eksis sampai sekarang, Jalan Kebon Sirih. Waktu aku di Jakarta, dengan bantuan maps, ku masukkan kata "Nasi Goreng Terdekat" dalam kolom pencarian google maps. Kemudian, muncul nama "Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih Sejak 1958 - Kebon Sirih" sebagai urutan pertama rekomendasi google maps. Langsung deh, nggak pake lama, ku arahkan motor ku menuju titik Nasi Goreng Kebon Sirih berada dengan dipandu oleh desahan mbak-mbak google maps.

FYI, Nasi Goreng Kebon Sirih buka mulai pukul 17.00 WIB dan tutup pukul 02.00 WIB. Aku yang mengendarai motor dari Pinx's Hostel, Hotel Kapsul Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB, udah sampai di tempat tujuan sekitar pukul 20.20 WIB. Agak lama memang, nggak sesuai prediksi google maps yang cuman 13 menit. Pasalnya, aku terlalu menikmati jalanan Jakarta malam selepas orang-orang pulang kerja. Nggak seperti Jakarta yang kayak di berita-berita. Menurut ku, Jakarta pada jam segitu adalah suatu oase yang nggak pernah ku jumpai di Pekalongan, pun di Semarang. Jalanannya rapih, banyak gedung bertingkat yang dihiasi lampu-lampu keren. Banyak pohon peneduh di pinggir maupun di median jalan. Rasanya, Jakarta di bagian itu tuh sejuk sekali. Beda kalau dibandingin yang kita lihat di berita-berita selam ini.

Baca Juga:

Menikmati Jalanan Malam di Jakarta

Aku nggak begitu paham jalan yang ku anggap baik itu namanya jalan apa. Tapi menurut maps yang ku baca, rute yang ku lewati adalah kisaran dari Jalan Gunung Sahari, menuju Masjid Istiqlal, kemudian menuju Monumen Nasional, itulah jalanan yang ku lalui pada malam itu. Jalanan tengah Kota Jakarta yang tertata rapih, banyak pepohonan, apa aja ada dan kemana aja deket, banyak pilihan transportasi publik dan yang jelas, nggak ada macet. Kalau Jakarta kayak gitu, rasa-rasanya pengen deh tinggal di Jakarta yang bagian itu. Bukan Jakarta yang macet, banjir dan banyak sampahnya kayak di tv-tv wkwkwk.

Setelah sampai di titik yang diarahkan oleh mbak-mbak google maps, aku nggak melihat ada sebentuk Restoran Nasi Goreng seperti yang tertera pada kategori maps Nasi Goreng Kebon Sirih. Emang sih rame, banyak mobil parkir di badan jalan yang kalau aku nggak salah ingat, ada rambu larangan parkirnya. Tapi aku nggak ada lihat bangunan restoran yang seperti terlintas dibenak ku kalau disebut kata restoran. Adanya cuman keramaian manusia di pinggir jalan dengan tatanan bangku dan meja yang seadanya. Karena aku nggak yakin kalau itu tempat yang ku tuju, akhirnya aku memutuskan untuk nggak memberhentikan motor yang ku kendarai pada titik tersebut. Pikir ku, ah mungkin masih lurus dikit, pasti titik google mapsnya salah.

Titik Google Maps Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih



Tapi ternyata keputusan ku salah. Titik yang tadi disaranin google maps, ternyata bener. Posisinya pas menandakan dimana Nasi Goreng Kebon Sirih berada. Jadi, ini bukan restoran kayak yang ada di benak ku. Nasi Goreng Kebon sirih bangunannya bukan kayak restoran. Sebenernya, aku mau mundur nggak jadi makan di sana. Tapi gegara ku lihat lagi ulasan Nasi Goreng Kebon Sirih yang udah lebih dari 1000an dengan nilai lebih dari 4 dengan nilai maksimal 5, akhirnya ku ikuti lagi arahan google maps untuk menuju kembali ke titik dimana Nasi Goreng Kebon Sirih berada menurut google maps. Karena Jalan Kebon Sirih adalah jalan satu arah, google maps jadi mengarahkan ku melewati jalan tikus tercepat menuju ke sana. Saat itu, aku langsung jadi mikir, nggak-nggak, aku nggak jadi pengen hidup di Jakarta. Aku habis ngelewatin Jakarta kayak yang di tv-tv.

Sesampainya di sana, bingung dong markirin motornya dimana. Isinya kebanyakan pada mobilan semua. Aku langsung mikir, anjir lah, mahal nih pasti, mobilan semua soalnya. Hingga akhirnya lamunan ku tersadarkan karena dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang kemudian mengarahkan ku untuk parkir di atas troroar deket pusat keramaian tadi. Setelah motor dirasa aman, aku langsung sok tau masuk ke dalem. Padahal nggak tau gimana cara mesennya, dimana mesennya, pokoknya jalan aja tuh ke dalem. Eh, ternyata bener. Rambu yang dipasang sudah sangat jelas sekali. Sehingga ketika akan melakukan pemesanan, melakukan pembayaran dan mengambil pesanan tidak dibuat bingung olehnya. Pun juga nggak perlu belajar dari youtube tentang gimana cara pesen makanan di Nasi Goreng Kebon Sirih ini. Semua rambu atau papan informasinya telah terpampang jelas di sana.

Letak Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih Jakarta

Sumber: travel.kompas.com
Jadi, letak jualannya tuh ada di salah satu gang kecil bagian sebelah kanan dari Jalan Kebon Sirih. Tempat masak, tempat penyajian serta tempat bayarnya tuh bukan terletak di jalan raya Kebon Sirihnya. Tapi di sebuah gang deket jalan Kebon Sirih, yang kanan kirinya ada orang jualan dan ditengah-tengahnya jalan kampung. Kalau ada warga sekitar situ kalau mau lewat, ya lewat aja gitu. Wong itu jalanan umum sih soalnya. Nah itu, disitulah letak lapak jualannya Nasi Goreng Kebon Sirih berada. Padahal katanya google, dikategorikan sebagai sebuah Restoran Nasi Goreng. Ternyata bukan, melainkan emperan. Maka dari itu, pikiran ku akan mahalnya Nasi Goreng Kebon Sirih gegara pada mobilan semua, jadi terpatahkan. Emperan gini, paling mahal 20 ribuan doang mah ini 1 porsinya, pikir ku.

Ternyata orang kaya di Jakarta masih pada mau ya, makan di tempat emperan gini. Padahal kan di Solaria juga jualan Nasi Goreng. Ngapain pada ke sini ya? Padahal kan enakan di Solaria. Ber AC, kursinya empuk, mbak-mbaknya sedap dipandang mata. Nyaman lah pokoknya kalau di Solaria. Jelas berbanding terbalik dengan apa yang akan didapatkan ketika makan ngemper di Nasi Goreng Kebon Sirih ini. Nggak salah lagi, pasti Nasi Goreng Kebon Sirih ini enaknya kebangetan. Pasti nggak ada yang ngalahin sedapnya nasi goreng di sini. Makanya, orang kaya di Jakarta rela ngemper cuman buat menikmati nasi goreng yang dijual di sini. Katanya sih, sajian terlezatnya adalah varian Nasi Goreng Kambing. Sebenernya ini aku cuman menduga doang sih. Soalnya di google maps nama yang terpampang nyata adalah Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Jadi, udah pasti lah ya sajian andalah di sini adalah Nasi Goreng Kambing.

Harga Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Sumber: goodindonesianfood.com
Nggak pake lama, nggak pake lihat harga, aku langsung pesen 1 porsi Nasi Goreng Kambing ditambahn 1 porsi es teh di tempat pemesanan yang ada di sebelah kanan gang. Setelah itu, aku diarahkan untuk menyebrang ke bagian sebelah kiri gang untuk melakukan pembayaran. Kemudian aku menyebutkan jenis makanan dan minuman apa saja yang ku pesan. Nggak lama kemudian disahut oleh mbak-mbak yang badannya nggak kayak mbak-mbak karena saking besarnya, dengan menyebut nominal dalam satuan rupiah. Lima Puluh Ribu. Glek. Aku nelen lidah sambil berasa ada bunyinya. Glek. Aku nelen lidah lagi sambil ngeluarin satu lembar biru dari dompet yang ku taruh di saku bagian pantat. Setelah membayar dan menyelesaikan pesanan, aku dikasih es teh pesanan ku serta nomor. Mirip di Solaria.

Di jalan waktu mau milih tempat duduk, nggak sedikit pun ku lihat ada celah yang bisa ku duduki. Sambil jalan, aku sambil mikir, eh anjir, ku kira harganya cuman 20 ribuan, ternyata lebih dari 2 kalinya. Sambil melihat sekeliling, aku terus berjalan mencari tempat kosong. Karena semua meja dan tikar terlihat penuh, tak bersisa. Ada satu kursi kosong dengan sisa makanan pengunjung sebelumnya yang masih tersisa di meja. Pikir ku daripada nggak dapet tempat duduk, aku langsung ambil kuda-kuda menyerobot kursi kosong tadi. Biar lah walaupun masih kotor, paling juga ntar dibersihin. Setelah duduk, aku semakin nggak sabar menikmati nasi goreng 50 ribu pertama yang aku beli barusan. Membayangkan penuh sesaknya tempat yang disediakan serta harga yang kelewat mahal, aku yakin betul pasti rasa Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih ini enaknya kebangetan. Pasti enak banget.

Nasi Goreng Kebon Sirih vs Nasi Goreng Solaria


Nggak lama setelah pantat ku tenang bertemu dengan kursi yang nggak berbusa, nggak kayak di Solaria, Nasi Goreng Kambing pesanan ku diantar langsung ke tempat ku duduk. Karena sisa makanan pengunjung sebelumnya masih belum dibersihkan, jadi cuman es teh pesenan ku doang yang cukup singgah di meja yang masih kotor itu. Aku sengaja diem aja, mau ngelihat gimana pelayanan nasi goreng yang harganya dua kali lipat dengan yang ada di Solaria. Ternyata nihil. Pelayan yang tadi mengantarkan pesanan ya cuman nganterin pesanan doang. Nggak berinisiatif buat beresin meja kotor di depan ku. Nggak kayak di Solaria. Dengan perasaan yang berkecambuk, anjir nasi goreng 50 ribu pelayanannya kok gini amat ya, tau gitu tadi makan di KFC aja. Sambil kesel mengumpat dalam hati, aku mulai menikmati suapan pertama Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih.

Suapan pertama, ku rasain pelan-pelan. Kok biasa aja ya rasanya. Emm... kayaknya belum diaduk nih. Ku aduklah itu nasi goreng. Suapan kedua, potongan daging kambingnya enak sih, tapi kok dikit ya. Suapan ke tiga, ini seriusan nasi goreng 50 ribu rasanya segini doang? Suapan keempat, serius, ini nasi goreng 50 ribu, porsinya segini doang? Sambil pura-pura menikmati kayak orang-orang lain di sana, aku sesekali mainin hp untuk memperlambat laju makan ku. Hingga akhirnya aku menyerah, semua suapan yang ku rasakan, aku nggak bisa menikmatinya. Ntah lidah ku yang aneh atau emang rasanya yang cuman segitu doang atau gimana, aku nggak paham. Mana udah ngemper pinggir jalan, tapi nasi goreng ini rame banget yang beli. Jujur aja, aku nggak bisa menikmati kelezatan yang mereka sajikan. Dengan melihat jumlah pengunjung yang hadir, harusnya ini nasi goreng lezatnya kebangetan.

Baca Juga: Cicipi Nasi Goreng Kebon Sirih yang Melegenda

Review Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Apa mungkin, perpaduan antara ngemper dengan suasanya kota yang asyik yang membuat nasi goreng ini semakin berasa lezat. Yang ku yakini sih, pasti lezat sih ya kalau lihat jumlah orang yang beli. Mungkin aku yang salah menilai karena nggak bisa menikmati representasi dan keunikan yang dipersembahkan oleh Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih ini. Kayaknya gitu sih. Aku yang nggak bisa menangkap sisi nikmat dari nasi goreng seharga 50 ribu ini. Iya, pasti aku yang salah dalam melakukan penilaian. Walaupun rasanya nggak sesuai dengan bayangan ku, karena ini adalah nasi goreng termahal yang pernah ku makan, mau nggak mau ya ku paksa habiskan makanan ini. Oh iya, ternyata nikmat juga ya makan nasi goreng di tempat se-rame ini beratapkan bintang ditemani deru kendaraan yang lalu lalang. Ku coba nikmati setiap suap yang tersisa sampai menyisakan satu suap terakhir dengan perut ku ini masih berasa lapar.

Saat akan memasukkan sisa atu suap terkahir ke dalam mulut, baru ada pelayan yang ambilin sisa makanan pelanggan sebelum ku tadi. Gila sih ini, nasi goreng 50 ribu tapi pelayanannya nggak mencerminkan harganya. Andai kata ini harganya 10 ribuan, aku masih maklum sih kalau nggak ada yang beresin meja setelah ada pelanggan yang kelar menyantap makanannya. Ah nggak ngerti ah. Otak ku nggak bisa mencerna dan menerjemahkan ini semua. Nasi Goreng mahal dengan rasa yang biasa aja disertai porsi yang menurut ku terlalu sedikit, dipadukan dengan pelayanan yang nggak lebih baik sibanding Solaria yang harga nasi gorengnya cuman setengahnya doang. Tapi, Nasi Goreng Kebon Sirih ini selalu ramai pengunjung dengan menyisakan sedikit tempat kosong.

Baca Juga: Legenda Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Kecewa: Nasi Goreng Kebon Sirih Jakarta

Ntah lah, aku juga nggak ngerti kenapa hal tersebut di atas bisa terjadi. Aku nggak bisa menyambungkan pecahan puzzel yang ada. Mungkin aku yang salah memberikan penilaian terhadap rasa, porsi serta pelayanan yang ku dapat. Atau mungkin aku hanya korban dari oknum pegawai yang tidak menjalankan SOP dengan baik. Ah nggak ngerti lah, yang jelas aku masih laper. Ini kalau di Pekalongan, aku bisa dapet 3 porsi nasi goreng ayam telor ditambah 3 es teh. Kalau aku kira-kira, tingkat kenyang memakan 1 porsi Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih ditambah 1 Paket Super Besar KFC dan 1 porsi Cream Soup ditambah 1 porsi Burger OR dibanding makan 1 setengah porisnya Nasi Goreng Usup yang jualan di depan GSG Pringgodani Desa Wonopringgo tingkat kenyangnya akan sama. Kalau kenikmatannya gimana? Jelas lebih enak makanan di KFC sih. Tapi kalau Nasi Gorengnya, menurut ku lebih enakan Nasi Goreng Usup.

Jadi, kamu yang di Pekalongan, nggak usah jauh-jauh ke Jakarta kalau mau merasakan sensasi kelezatan Nasi Goreng Kambing. Cukup ke GSG Desa Wonopringgo dengan membawa potongan daging kambing sendiri dan pesan 1 porsi Nasi Goreng Usup yang menurut ku rasanya lebih nikmat dibanding asi goreng 50 ribuan itu tadi.

Baca Juga: Ulasan Lain Tentang Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih Jakarta

Nasi Goreng Terdekat

Sumber: en.wikipedia.org
Yakin kamu masih mau makan di Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih? Menurut ku, buat kamu yang belum pernah nyobain makan di Nasi Goreng Kebon Sirih, harus mencobanya nasi goreng yang udah melegenda puluhan tahun sejak medio tahun 50an itu sih. Siapa tau lidah mu lebih cocok makan Nasi Goreng Kebon Sirih. Nggak kayak aku yang ke-ndesoan ini, yang malah nggak bisa makan makanan mahal. Atau aku malah salah tempat? Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang ku datengin bukan yang dimaksud orang-orang? Mungkin aku disasarin sama google ke Nasi Goreng Kebon Sirih yang kwnya? Ah iya nih kayaknya, cerita ku makan di Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih nggak kayak ceritanya orang lain terkait kelezatan dan rasa ketagihan yang mereka rasakan.

Cerita Menarik Lainnya: Tips Lolos Tes Wawancara Pemilihan Duta Wisata

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

Back to Top