Thursday, April 2, 2020

7 Perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok

Perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok

Inilah 7 Perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok. Jika dikelola lebih baik lagi, Cikoromoy benar-benar bisa menjadi sebuah surga tersembunyi di Pandeglang. Pasalnya, menurut beberapa artikel yang ku baca, walaupun musim kemarau, Mata Air Cikoromoy ini tidak pernah kehabisan airnya. Itu menandakan bahwa Cikoromoy memiliki potensi yang sangat berlebih, utamanya saat musim kemarau. Cikoromoy akan menjadi oase tersendiri disaat keterseiaan air di tempat wisata lain mulai menipis. Dengan adanya potensi yang maha dashyat tersebut, seharusnya pengelolaan di Cikoromoy dapat meniru apa yang dilakukan di Umbul Ponggok. Sehingga, Cikoromoy dapat menjadi Umbul Ponggoknya Provisi Banten.

BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Tirta Mandiri Ponggok adalah pengelola sekaligus pemrakarsa berdirinya Obyek Wisata Umbul Ponggok yang berada di Klaten, Jawa Tengah. Selain menjadi pionir BUMDes di Indonesia, karena telah berpenghasilan miliaran rupiah tiap tahunnya, seharusnya desa-desa yang memiliki potensi wisata dapat menjadikan Objek Wisata Umbul Ponggok sebagai kiblatnya pula. Pun demikian dengan Objek Wisata Mata Air Cikoromoy, agar supaya dapat mengelola potensinya dengan banyak belajar dari apa yang telah dilakukan di Ponggok.

Betapa hebatnya apa yang telah dilakukan di Ponggok, yang pada mulanya akrab dengan sebutan sebagai desa miskin. Hingga kemudian dapat berubah dalam sekejab menjadi desa yang mandiri. Tentunya dengan mengandalkan potensi alam melimpah yang dimilikinya. Sebenarnya, potensi yang sama, ku lihat ada di Cikoromoy. Cuman, karena belum dikelola dengan sangat baik, potensi tersebut seakan kalah silau dibandingkan dengan apa yang nampak dari Umbul Ponggok. Pada dasarnya, apa yang dimilik Cikoromoy saat ini adalah apa yang dimiliki pula oleh Umbul Ponggok dahulunya. Baik Ponggok ataupun Cikoromoy, sama-sama memiliki potensi kelas wahid dengan adanya sumber mata air yang melimpah.

Mungkin untuk menjadi Umbul Ponggoknya Banten, Cikoromoy kudu mulai berbenah dengan dikelola lebih baik lagi. Perhatian khusus seharusnya mulai diberikan di Cikoromoy. Terlebih dari hal-hal kecil berikut yang aku rasakan sewaktu akan, ketika dan setelah mengunjungi Cikoromoy.

Akses Jalan ke Cikoromoy dan Umbul Ponggok

Perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok
Gambar Hanya Ilustrasi. Nyetir cuy, Nggak Sempet Fotoin Jalannya. Makanya Pinjem Fotonya Наталья Коллегова dari Pixabay. Yang Jelas jalannya Mirip Begitu, Berkubang.
Sebenarnya, baik Umbul Ponggok ataupun Cikoromoy, sama-sama memiliki jalan yang tidak terlampau luas. Tak lebih seperti selayaknya jalanan khas pedesaan pada umumnya. Tapi jalan menuju ke Ponggok, biarpun tergolong kecil namun mulusnya ibarat pahanya Sora Aoi bintang bokep asal Jepang yang tersohor tersebut. Agak berlebihan sih emang. Tapi ibaratkan aja jalan di Ponggok itu kecil tapi mulus, selayaknya paha deket selangkangannya Sora Aoi. Lain halnya dengan apa yang terpampang nyata di Cikoromoy. Kalau aku boleh bilang sih, ini kayak Lucinta Luna. Bagus dari jauh, tapi ternyata palsu. Parah banget jalanannya. Nggak cuman berlubang doang, tapi lebih ke arah berkubang.

Isu yang selama ini hadir melalui media massa, kayaknya ada benernya. Kerajaan kekuasaan di Banten memang benar adanya. Pantas saja KPK memindah rumahkan keluarga penguasa Banten ke tempat yang lebih layak (Baca: Bui). Padahal, Banten ini deket banget sama Jakarta, pun juga mepet Jawa Barat, tapi pembangunannya timpang banget. Ambil contoh aja masalah jalan raya doang. Jalan semulus paha Chelsea Islan dari Jakarta berubah jadi paha penuh koreng ketika sampai Banten. Pun juga jalan menuju Cikoromoy yang secara administrasi terletak di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Padahal Banten bisa juga punya Ponggok, yang ada dalam diri Cikoromoy. Tapi ketimpangan masalah jalan menjadi salah satu penyebab utama Cikoromoy masih kalah jauh kalau dibandingin Ponggok.

Baca Juga: 

Mungkin masalah jalanan yang sangat buruk rupa ini, bisa ditutupi dengan apa yang ditransformasikan, sehingga dapat merias Cikoromoy menjadi semakin menarik dimata wisatawan. Walaupun nggak ada referensinya, tapi aku yakin banget kalau dulu, jalan menuju ke desa miskin yang bernama Desa Ponggok, nggak kalah buruk rupanya dibanding jalan menuju ke Cikoromoy saat aku ke sana. Tapi karena Ponggok bisa merias diri, yang kemudian bikin sange para wisatawan, masalah jalanan busuk ke Ponggok akan baik dengan sendirinya tanpa pusing-pusing mikirin gimana caranya. Karena pasti deh, pihak yang berwenang nggak mau menahan malu kalau isu yang diangkat adalah buruknya jalan menuju Surga Tersembunyi baru di Klaten bernama Umbul Ponggok. Kalau Ponggok bisa, kenapa Cikoromoy enggak?

Bintang Bokep Jepang
Ini bukan Fotonya Sora Aoi yang Bintang Bokep itu. Cuman Mulusnya Mirip. Foto Ambil dari dari Pixabay

Pengelolaan Tempat Wisata Cikoromoy dan Umbul Ponggok

Umbul Ponggok
Ada Batas dan Penanda yang Jelas Dimana Objek Wisata Umbul Ponggok Berada.
Seperti yang udah ku tulis di atas, kalau Umbul Ponggok ini dikelola oleh BUMDes. Itu artinya ada sinergitas antara pemerintah desa dengan pengelola obyek wisata Umbul Ponggok. Kita semua tau, bahwa di era Presiden Jokowi ini setiap desa mendapatkan yang namanya Dana Desa. Pun juga dengan Cikoromoy, pasti mendapatkan jatah Dana Desa dari pemerintah pusat. Nggak perlu muluk-muluk ngomoging berapa besaran Dana Desa yang ada deh, pasti banyak banget. Harusnya yang dilihat adalah sinergitas antara Pemerintah Desa dengan pengelola tempat wisata. Apalagi dengan adanya peraturan kementrian desa yang mendukung terbentuknya desa wisata melalui program One Village One Product. Emang sih Cikoromoy bukan merupakan sebuah produk. Tapi aku rasa, Cikoromoy ini bisa jadi salah satu potensi lokal desa yang bisa bikin sange orang-orang sehingga bernafsu untuk menggaulinya.

Naaah... hal yang kayak gitu, yang lebih ku tekankan pada aspek sinergitas antara Pemerintah Desa dengan pengelola tempat wisata, belum aku lihat ada di Cikoromoy. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya penjagaan di loket masuknya. Memang ada sih tempat kayak loket gitu, tapi nggak layak disebut sebagai loket retribusi tempat wisata. Malah lebih pantas disebut sebagai gubuk reot. Karena nggak ada penjaganya, hal tersebut dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dengan meminta retribusi masuk ke tempat wisata tanpa ditukarkan dengan bukti pembayaran yang sah. Dengan adanya retribusi liar tersebut, hal tersebut membuktikan kalau Cikoromoy belum dikelola dengan baik. 

Ada baiknya, Cikoromoy banyak belajar tentang pengelolaan tempat wisata yang baik dari Umbul Ponggok. Selain karena pengelolaannya terbilang sangat baik, di Umbul Ponggok tercipta ekosistem sinergitas yang baik pula antara Pemerintah Desa, pengelola tempat wisata yang kemudian bertransformasi menjadi BUMDes. Hingga kemudian dapat memperoleh penghasilan miliaran rupiah setiap tahunnya, bahkan menjadi nomor satu di Indoneisa sampai sejauh ini. Apa Cikoromoy nggak pengen?

Cikoromoy
Sementara di Cikoromy Tidak ada Penanda atau Batas yang Jelas Antara Pemukiman Warga dengan Objek Wisata Mata Air Cikoromoy Berada.

Perbandingan Promosi Cikoromoy dan Umbul Ponggok

Kalau dibuat perbandingan, perihal akses jalan serta perihal pengelola tempat wisata antara yang ada di Cikoromoy dengan yang ada di Umbul Ponggok, mungkin berkisar pada angka 5 : 10. Beda ceritanya pada poin promosi ini. Kalau aku boleh menilai, perbandingannya 1 milik Cikoromoy berbanding 10 milik Umbul Ponggok. Sangat amat jomplang banget sekali emang. Kalau nggak percaya, cek aja google. Logikanya, yang punya nama Cikoromoy, ya Cikoromoy itu sendiri. Tapi peluang tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Sehingga hasil yang ada di halaman pencarian google, dikuasai oleh orang lain yang belum tentu ngerti keadaan di Cikoromoy sebenarnya. Cikoromoy nggak punya website. Berbanding 180 derajat dengan apa yang ada di Desa Ponggok serta Wisata Umbul Ponggok itu sendiri, yang masing-masing memiliki website tersendiri.

Gila sih emang, di zaman yang udah serba digital gini, dengan potensi menakjubkan yang dimiliki oleh Cikoromoy, tapi mereka nggak punya website. Kata kunci Cikoromoy malah dimakan oleh orang lain. Jangan cuman nyalahin korupsi gila-gilaan yang dilakukan oleh penguasa Banten terdahulu, yang kemudian dijadikan kambing hitam ketidak punyaan Cikoromoy akan website. Mari lihat hal kecil yang ada... Orang-orang yang nggak tau Cikoromoy, pasti mengandlakan Google Maps untuk menuju ke sana. Lihat Google Maps deh, Cikoromoy sudah mendapatkan ribuan ulasan yang menurut ku itu banyak banget. Tapi parahnya, tidak dimasukkan dalam Google Bisnis, padahal gratis. Kalau aku nakal, bisa aja titik Cikoromoy yang udah tenar di Google Maps ini ku klaim kepemilikannya.
Ah... atau mungkin itu terlalu ribet kali ya, harus bikin website, harus bikin Google Bisnis, terlalu ribet. Kalau gitu, mari kita lihat instagram, facebook dan twitter, adakah akun milik Cikoromoy? Aku yang ngelihat peluang ini, kalau aku jahat, semua akun sosial media dengan id Cikoromoy bisa ku ambil dan kupake. Makanya, nggak salah kalau aku ngasih perbandingan yang sangat jomplang dan ekstrim. Padahal, Cikormoy ini bikin sange banget. Bisa bikin ada yang keras tapi bukan tekad. Ada yang berdiri, tapi bukan kaki. Tapi karena nggak ada bokepnya, jadinya cuman sedikit doang yang tau dan bisa benar-benar menikmati keseksian Cikoromoy. Ibaratnya gitu. Padahal Cikoromoy itu bagai gunung emas yang tinggal disepuh sedikit biar lebih mengkilat.

7 Perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok

Itulah perbedaan yang ku temukan ketika akan, saat dan setelah mengunjungi Cikoromoy. Aku cuman bisa ngasih 3 perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok, biar ke empat, lima, enam, tujuh dan seterusnya ditambahin lewat kolom komentar dari kamu yang baca tulisan ini dan udah mengunjungi Cikoromoy serta Umbul Ponggok. Hal tersebut merupakan kritik membangun yang seharusnya dapat diperhatikan lagi. Kalau tempat wisata berkembang, apalagi yang letaknya di desa, tentu bukan cuman wisatawan doang yang merasakan dampaknya. Warga sekitar, baik pemerintah desa ataupun pengelola tempat wisata juga pasti akan merasakan dampaknya.

Seperti yang sudah terjadi di Umbul Ponggok, desa miskin yang sekarang berpenghasilan miliran rupaih setiap bulannya dengan mengandalkan potensi kearifan lokal desanya. Ekonomi bergerak, potensi lokal desa lainnya juga terangkat, masyarakat juga merasakan dampak positif dari bergeraknya roda ekonomi di desa. Arus urbanisasi pun dapat ditekan karena lapangan pekerjaan tersedia luas. Ah rasanya senang sekali ya jika tinggal di desa wisata. Kerja dekat rumah, dekat keluarga, dekat orang tua, nggak jadi orang-orang yang menuhin kota besar.

Eh ini ngapa jadi ngelantur gini sih ya wkwkwk

Udah ah, sampai disini aja. Itulah perbedaan Cikoromoy dan Umbul Ponggok yang menurut ku membuat lambat perkembangan Cikoromoy yang sejatinya memiliki potensi menjadi Surga Tersembunyi di Pandeglang.

Tips Sebelumnya:

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Back to Top