Rabu, 30 September 2020

Urang Kanekes, Penguasa Pedalaman Perkampungan Suku Baduy

Suku Baduy adalah sekumpulan orang yang tinggal di pedalaman Banten. Menurut buku yang pernah ku baca, orang-orang suku Baduy lebih suka menyebut diri mereka sebagai Urang Kanekes. Suku ini terkenal karena kehidupannya yang tidak tergerus oleh modernisasi zaman. Bahkan bisa dibilang kalau mereka ini mengisolasi diri dari dunia luar. Sebagai contohnya, apalagi untuk sekedar smartphone, listrik pun nggak ada di kampung mereka. Tempat tinggal suku Baduy ini terdiri dari dua macam bagian yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Lantas, apa bedanya? Apa uniknya Baduy? Kenapa kok mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Urang Kanekes?


FYI, di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), "Baduy" merupakan kata yang tidak baku. Kata bakunya adalah "Badui". Namun, karena Baduy lebih terkenal daripada Badui, di artikel kali ini aku bakalan menggunakan kata Baduy ya...

Oke, Lanjut!

Baduy adalah Nama Suku di Provinsi...

Tempat tinggal suku Baduy itu adanya di daerah Kanekes, Kecamatan Lebak, Provinsi Banten. Di google maps udah ada kok, aku ke sana pun cuman ngandelin google maps doang. Searching aja ke maps pake kata kunci "Baduy", nanti bakalan disarankan banyak tempat. Kalau aku sih waktu itu pilih yang "Wisata Kampung Marengo Baduy Luar" dan berhasil menginjakkan kaki di sana. Jadi, kalau mau ke sana, nggak usah bingung rutenya yaaa. Kalau nggak percaya sama GPSnya google, gunakan GPS jadul mu. Gerombolan Penduduk Setempat.

Baduy adalah...

Dari yang ku baca, Suku Baduy ini lebih suka disebut sebagai Urang Kanekes. Alasannya adalah karena mereka tinggal di daerah Kanekes. Makanya, mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Urang Kanekes dibandingkan dengan sebutan sebagai Suku Baduy. Tapi, di dunia luar sebutan sebagai Suku Baduy lebih familiar dibandingkan dengan sebutan sebagai Urang Kanekes. Namun, sebutan Baduy yang telah melekat tersebut, muncul bukan tanpa alasan. Karena di tempat tinggal Suku Baduy terdapat sungai dan gunung yang bernama Baduy, tepat dibagian utaranya. Oleh karena itu, munculah sebutan yang mendeskripsikan orang-orang yang tinggal di daerah tersebut sebagai Suku Baduy.

Perlu diketahui, tempat tinggal Suku Baduy ini adalah tempat yang layak banget buat dikunjungin. Tapi nggak semua tempat bisa secara bebas buat dikunjungi oleh wisatawan atau orang-orang yang cuman kepo doang. Kayak kamu yang lagi baca ini, orang-orang kepo. Naaah, bagian mana saja yang kira-kira bebas dikunjungi dan yang agak terbatas buat dikunjungi?

Baduy Dalam dan Baduy Luar

Seperti yang udah ku tulis di paragraf awal, kalau tempat tinggal Suku Baduy ini terbagi menjadi dua. Yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Mungkin sampai di sini kamu udah bisa menerka-nerka bagian mana yang bebas bisa dikunjungi dan bagian mana yang agak terbatas buat dikunjungi. Buat kamu yang nebak kalau daerah Baduy Luar adalah daerah yang bebas untuk dikunjungi serta Baduy Dalam adalah daerah yang agak terbatas buat dikunjungi, tebakan mu tepat banget. 

Tapi pada dasarnya, semua orang bisa mengunjungi kesemuanya, baik itu Baduy Luar ataupun Baduy Dalam. Tapi, ya itu tadi, kayak yang udah ku jelasin tadi, Baduy Luar cenderung mudah untuk dikunjungi sementara untuk berkunjung ke Baduy Dalam emang agak sulit.

Baduy Dalam

Sulit yang ku maksud mengandung beberapa makna. Pertama, jarak dan rute yang menurut ku sih sulit karena nggak ada jalan aspal ataupun paving blok serta medan yang sangat bervariasi antara tanjakan dan turunan terjal. 

Kedua, Suku Baduy ini adalah suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar karena mereka masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat mereka. Oleh karena itu, nggak sembarang orang bisa masuk ke Baduy Dalam. Karena orang-orang Baduy nggak mau kalau adat istiadat yang selama ini telah mereka junjung dan terapkan akan hancur ketika ada pengaruh modern yang memasuki daerah perkampungan mereka. Katakanlah handphone yang berkamera terus kamera digital atau hal-hal modern lainnya seperti kondom bekas mu, viagra yang sukses buat titit mu ngaceng terus, eh apa sih ini. 

Intinya sih, barang-barang modern tersebut tidak boleh digunakan saat menginjakkan kaki di daerah Perkampungan Baduy Dalam. Kalau cuman mau dibawa masuk ke daerah Baduy Dalam sih boleh banget, cuman syaratnya tidak boleh digunakan. Akan ada sanksi adat yang menunggu orang-orang kepo siapapun yang berniat untuk melanggar aturan tersebut. Sanksinya pun nggak cuman sanksi sosial doang, tapi bisa aja sanksi yang berhubungan dengan dunia gaib. Bisa jadi, nggak tau kenapa titit mu tiba-tiba nggak mau ngaceng kan? Wkwk

Perbedaan Baduy Dalam dan Baduy Luar

Naaah, mungkin dua hal itu aja sih yang membedakan antara Baduy Luar dan Baduy dalam. Intinya sih, Baduy Luar boleh hp-an. Sementara Baduy Dalam sama sekali nggak boleh. Kamu pernah denger nggak sebutan BANTEN JAWARA? Ya ini, salah satu wujud nyatanya ada di Baduy ini. Urang Kanekes yang mendiami perkampungan Baduy punya hak akses khusus untuk mengatur dan berkuasa di daerah tempat tinggal mereka tanpa campur tangan pemerintah. 

Hingga tulisan ini dibuat, aku salut banget sama Urang Kanekes yang berhasil terus menggenggam teguh adat istiadat yang diturunkan dari nenek moyang mereka. Menurut ku, ini adalah keunikan dari Suku Baduy yang di era modernisasi ini masih setia menggengam teguh amanat nenek moyang mereka. Daerah mana coba yang masih kayak gini? Nggak ada! Oleh karena itu, menurut ku hal tersebut adalah keunikan yang sangat menakjubkan serta perlu dilestarikan.

Ketika tempo hari aku berkesempatan mengunjungi perkampungan suku Baduy, aku sempat terheran-heran. "Loh Baduy bukannya terisolir banget ya? Makanya aku pengen ke sini tuh pengen menyaksikan, apa bener Baduy masih terisolir banget". Ternyata nggak kayak yang diceritain orang-orang. Baduy sekarang udah nggak kayak Baduy dulu yang tulisannya bisa atau bahkan pernah kamu baca-baca. Khususnya Baduy Luar. 

Kehidupan mereka udah nggak bisa disebut primitif banget. Terhitung sejak parkiran, tepatnya berada di Terminal Ciboleger, tempat terakhir yang bisa dilalui dengan menggunakan kendaraan bermotor. Selebihnya, jika mau ke perkampungan suku Baduy, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Setau ku nggak ada jalan lain. Sampai perkampungan Baduy yang terletak sangat dekat dengan Terminal Ciboleger. Kesan primitif sudah mulai agak luntur di daerah yang ku sebutkan tadi.

Baca Juga: Nasi Goreng Kebon Sirih. Nasi Goreng Termahal yang Pernah ku Makan.

Kembali lagi ke suku Baduy yang terisolir...

Waktu itu, hanya dengan bermodal GPS yang ada di hp, aku sengaja nggak menyewa pemandu. Maklum, ke Baduy modal nekat doang. Duit yang sekiranya buat bayar pemandu, bisa buat beli makan kan. Dari Terminal Cibolonger, keadaan waktu itu turun hujan. Karena udah jauh-jauh sampai ibaratnya pintu masuk ke Baduy, masa mau pulang. Akhirnya beli jas hujan sekali pakai di Alfamart Terminal Ciboleger. Untungnya, waktu itu aku nggak salah ambil kondom. 

Jalan terus ke atas, ngikutin GPS. Sampailah pada tugu yang kayaknya pembangunannya disponsorin Telkomsel. Soalnya ada logo Telkomsel di sana. Sebelahnya ada Sekolah Dasar. Nggak tau SD apa, yang jelas kesan autentik Baduy di sini belum terasa. Jalanan juga masih agak bagus, ada paving bloknya.

Jadi, rumusnya, semakin dekat perkampungan Baduy Luar dengan Terminal Ciboleger, kehidupannya akan semakin modern. Di terminal Cibolonger pun ada Alfamart, ada listrik, ada sinyal, di deket kasir Alfamartnya juga jualan kondom. Yang untungnya tadi aku tadi nggak salah ambil waktu mau beli jas hujan sekali pakai. Tapi, begitu semakin menjauhi Terminal Cibolonger, keadaan akan menjadi semakin terisolir pula.

Rute Menuju Baduy

Seperti yang sudah ku bilang di atas, kalau jalan satu-satunya menuju ke perkampungan Baduy adalah menggunakan kaki. Dari Terminal Ciboleger, naik terus ke atas, ngikutin jalan yang cuman satu-satunya menuju ke Perkampungan Suku Baduy. Ngelewatin jalan ini tuh berasa melewati lorong waktu. Dari yang awalnya jalanan agak bagus, ada sinyal, masih ada listrik, orang-orang masih mainin hp, perlahan-lahan berubah menjadi keadaan yang jalannya cuman jalan setapak tanpa paving blok, nggak ada sinyal, nggak ada listrik, sepi, hutan dan rumah-rumah yang mulai berjauhan.

Di Baduy Luar, emang masih bisa dijumpai anak-anak Baduy yang mainan hp. Padahal sejak masuk ke perkampungan Baduy Luar, nggak ada listrik sama sekali. Masuk logika mu nggak? Nggak ada listrik tapi anak-anak Baduy bisa mainan hp? Ini nih hebatnya Orang Baduy. Saking saktinya mereka. Walaupun di rumahnya nggak ada aliran listrik sama sekali, tapi mereka bisa ngisi batre hp.

Pikir dulu. Simpan rasa penasaran mu. Jawabannya akan ku tulis pada bagian akhir artikel ini.

Semakin ke atas, keadaan mulai berubah. Waktu kesasar di Perkampungan Baduy Luar, karena rumahnya masih berdempetan, masih ada warga Baduy yang bisa ditanya-tanya dan menunjukkan arah. "Oh mau ke Gajeboh?". Aku yang nggak ngerti apa itu Gajeboh, mengiyakan pertanyaan tersebut. Yang kemudian menunjukkan arah yang benar. Lewat dari perkampungan tersebut, yang bisa dijumpai hanyalah hutan dan rumah yang berjauhan. Alias nggak ada yang bisa ditanyain selain percaya sama GPS doang.

Ciri Suku Baduy

Ciri khas masyarakat suku Baduy adalah mereka tidak memakai alas kaki, pakaiannya serba berwarna putih atau biru tua. Untuk orang Baduy Luar, biasanya mereka memakai pakaian yang tidak memiliki kancing. Jadi, untuk membedakan antara Orang Suku Baduy atau bukan, dapat dilihat langsung secara kasat mata. Karena, banyak juga orang yang bukan dari Suku Baduy berada di kawasan tersebut untuk menjajakan sesuatu. Ini menjadi bekal yang ku bawa ketika memutuskan mengunjungi Baduy dengan tidak menyewa jasa pemandu. Kalau mau tanya arah, sama orang Baduy aja. Jangan sama yang bukan orang Baduy.

Bekal tersebut terpakai juga. Waktu itu, GPS ngadat. Ada persimpangan jalan yang tidak terdeteksi di Google Maps. Karena GPS ngadat, akhirnya kita andalkan GPS lokal. Gerombolan Penduduk Setempat yang duduk-duduk di depan rumahnya. "Permisi, mau tanya, kalau mau ke wisata Baduy dimana ya?" mereka agak kebingungan menjawab pertanyaan ku. Hingga kemudian aku mengganti pertanyaan ku "Biasanya orang-orang kalau ke Baduy kemana ya?"

"Oh ke Gajeboh ya?"

Kembali, aku yang nggak ngerti apa itu Gajeboh menganggukkan kepala saja. Lalu, GPS lokal tersebut menunjukkan arah yang kemudian diikuti dengan bergeraknya GPS Google Maps ke arah yang benar. Yaitu menuju titik "Wisata Kampung Marengo Baduy Luar".

Di jalan, aku bertanya-tanya... orang-orang sini kalau ditanyain pada bilangnya Gajeboh Gajeboh, aku tau itu nama suatu tempat. Tapi aku nggak ngerti itu apaan. Sampai aku pulang dari Baduy pun, aku masih belum ngerti apa itu Gajeboh. Karena aku nggak pernah sampai ke tempat yang namanya Gajeboh itu tadi.

Karena perjalanan diiringi hujan yang tiada henti, jalanan tanah merah tanpa ada apapun selain ya cuman jalan setapak doang, menjadi sangat licin. Hingga akhirnya ku tanggalkan alas kaki ku. Biar kayak orang Baduy. Ternyata jalan kaki tanpa alas, enak juga ya. Terakhir kali aku ngerasain waktu aku masih kecil. Waktu belum tau coli, belum tau kondom, belum pernah lihat bokep. Jalanan di Baduy ini gampang. Jalanannya cuman satu doang. Susahnya cuman kalau ada persimpangan. Pilih simpangan yang satu atau simpangan yang satunya lagi. Kalau kesasar, ya tinggal balik ke simpangan sebelumnya, pilih jalan yang satunya.

Singkat kata, kami menemukan perkampungan lagi. Tapi menurut informasi yang ku baca, orang Baduy Luar itu menggunakan pakaian yang serba putih-putih. Sementara perkampungan yang entah namanya kampung apa ini, rerata warganya menggunakan pakaian berwarna biru tua. Jadi dapat disimpulkan bahwa kita masih berada di Baduy Luar. Saat itu, kami memutuskan untuk nggak berkunjung ke Baduy Dalam, karena dikejar waktu. Jadi, kami hanya memutuskan untuk mengunjungi bagian Baduy Dalam saja.

Cantiknya Perempuan Suku Baduy

Di perkampungan tersebut, banyak sekali warga yang melakukan kegiatan menenun di depan serambi rumah mereka. Saat itu waktu menunjukkan pukul 16.00 kondisi sedang turun hujan. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak menjelajah Perkampungan Suku Baduy ini lebih dalam lagi. Kami memutuskan untuk singgah disalah satu rumah yang masih ada anak warga Baduy yang sedang menenun. Kami disambut hangat, walaupun warga Baduy di perkampungan ini agak irit berbicara. Nggak ngomong kalau nggak ditanyain. Tapi, aku tau betul kalau mereka menyambut kami dengan hangatnya, dilihat dari sikap dan senyum ramah yang meraka tunjukkan. Walaupun tanpa ada sepatah kata pun yang mengiringi.

Anak suku Baduy tersebut bernama Eris. Sudah bisa menenum saat usianya menginjak 10 tahun. Saat aku ke sana, umurnya 13 tahun. Seperti perkampungan Baduy lainnya, di sini juga tidak ada listrik. Aktivitas warga hanya dilakukan ketika ada penerangan alami dari matahari. Selebihnya, aktivitas mereka ditemani oleh nyala lampu yang sumbernya dari api. Entah apa namanya, aku nggak kepikiran buat nanya waktu itu.

Eris dan keluarganya, adalah warga Baduy Luar yang masih menjunjung tinggi adat istiadat yang ada di Baduy. Bukan terbelakang dan tidak berpendidikan, Adat Istiadat Suku Baduy melarang warganya untuk turut serta dalam pemerintahan. Baik itu sekolah, bekerja ataupun hal lainnya yang biasanya sudah menjadi kewajiban masyarakat kota.

Eris dan keluarganya menggantungkan penghidupan dari berkebun yang dilakukan oleh Bapaknya Eris, yang pada waktu aku ke sana, beliau sedang tidak di rumah karena sedang menggarap kebunnya. Entah apa yang mereka tanam. Tapi senalar yang ada di benak ku, pasti mereka memanfaatkan apa yang ada di hutan. Selain itu, penghasilan mereka bersumber dari kerajinan tangan yang mereka buat.

Seperti apa yang sedang dikerjakan oleh Eris sore itu. Yang kemudian membuat keseharian Eris tidak seperti anak-anak kota pada umumnya. Eris tidak bersekolah, tidak mainan gawai, tidak pula nonton acara alay di TV. Tapi, biarpun Eris tidak mengenyam pendidikan, nyatanya Eris lebih santun dibanding orang-orang berpendidik. Pendidikan keluarga di Baduy masih berjalan sebagaimana mestinya seperti konsep pendidikan dasar pasa fase awal, yaitu keluarga; seperti yang sering kita pelajari di sekolah.

Rumah Suku Baduy

Rumah warga Baduy ini tidak menapak di tanah. Bisa dibilang rumah panggung. Konon katanya, warga Baduy pantang meratakan tanah. Sehingga rumah di perkampungan tempat Eris tinggal ini rerata berbentuk panggung, karena untuk mengakali kontur tanah. Berbeda dengan rumah warga Baduy Luar yang tidak jauh dari Terminal Ciboleger, jarang ada yang berbentuk panggung. Mungkin tiap perkampungan di Baduy ini memiliki preferensi khusus tentang bentuk rumah mereka. Sebagian besar dinding rumah terbuat dari apa yang ada di alam. Baik berupa bambu, kayu atau benda lain yang ada di alam. Karena setau ku, segal hal yang ada di Baduy ini tidak boleh mendatangkan bahan bangunan dari luar Baduy. Perihal atap pun, mereka juga menggunakan dedaunan. Aku nggak ngerti jenis daun apa yang mereka gunakan. Bentuk daunnya, nampak asing bagi ku.

Rumah Perkampungan Suku Baduy Tanpa Pemandu
Bentuk Rumah Perkampungan Suku Baduy

Eris ini memiliki memliki paras yang sangat geulis. Bisa dibilang cantik. Ini bukan bermaksud body shaming tapi merupakan bentuk pujian. Pun rerata perempuan Baduy yang ku temui selama perjalanan, rerata meiliki paras yang syahdu. Seketika itu aku langsung punya pemikiran, Aku mau kok nikah sama orang Baduy. Cantik-Cantik cuy. Putih kulitnya, tanpa skincare. Biarpun rambutnya panjang, tapi tampak berkulai dan terawat walaupun tanpa harus pakai Tresme. Badannya pun nggak bau walaupun nggak pakai parfum ratusan ribu cuman dapet 100ml. Sejak saat itu, aku mengidolakan perempuan Baduy.

Adat dan Perkawinan Suku Baduy

Tapi kemudian aku tersadar, Baduy adalah suku yang masih menjaga adat istiadat nenek moyang mereka. Salah satu yang masih mereka jaga dan pertahankan hingga saat ini adalah perihal perkawinan. Di Suku Baduy, pernikahan hanya boleh terjadi diantara suku Baduy saja. Jadi, pasti akan sulit kalau mau menikahi suku Baduy. Kalau sudah begitu, jelas tidak boleh dilawan. Jadi, aku mengurungkan niat untuk bisa menikahi perempuan dari suku Baduy. Lalu perihal tidak memakai skincare, sampo dan hal-hal lain yang berbau kimia lainnya. Sampai saat aku ke sana pun (mungkin sampai sekarang kamu baca tulisan ini pun), adat tersebut masih dijaga betul. Karena warga Baduy tidak mau merusak dan mecemari alam. Utamanya Sungai Baduy yang tentunya menjadi sumber dari segala kehidupan yang ada di Baduy.

Ada satu hal menarik lagi yang ku jumpai di Baduy, yaitu perihal rumah penyimpanan makanan suku Baduy yang diberi nama Leuit. Tampat ini adalah sebuah rumah yang dikhususkan oleh suku Baduy untuk menyimpan makanan, utamanya padi. Dari sini aku jadi merasa agak miris sama petani di kota atau kabupaten yang buang-buangin hasil kerja keras mereka karena harga yang anjlok. Ternyata, pendidikan di sekolah tidak mampu menyelesaikan problem tersebut, sampai sekarang. Suku Baduy yang terkenal karena tidak mengeyam bangku persekolahan, memiliki cara yang dipercaya turun temurun untuk menyimpan hasil panen yang berlebih. Tidak dengan cara melakukan aksi berlebihan membuang hasil jerih payah mereka sendiri. Kalau dipelajari, banyak hal yang seharusnya kita masyarakat kota banyak belajar dari Suku Baduy.

Ditengah percakapan, Ibunda Eris bertanya "Tidak ke Gajeboh?"

Anjiiirrr... ini dari tadi orang-orang Baduy nyebut Gajeboh terus. Aku nggak ngerti apa itu Gajeboh. Ku gelengkan kepala, lantas kembali menimpali pertanyaan "Emang Gajeboh masih jauh dari sini?"

"Tidak, satu desa lagi, sudah sampai Gajeboh"

Kampung Gajeboh Baduy

Karena aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan semakin dalam di Perkampungan Suku Baduy ini, jadi aku nggak bertanya dan membahas Gajeboh lebih jauh lagi. Sesampainya di rumah, aku mencari tau apa itu Gajeboh, yang ku kira waktu itu adalah penyebutan untuk rumah penyimpanan bahan makanan suku Baduy. Ternyata salah, Gajeboh adalah nama salah satu desa di Baduy yang terdapat jembatan bambu yang sangat ikonik. Jembatan terebut dibuat hanya dengan mengandalkan apa yang ada di Baduy. Karena warga Baduy tidak boleh mendatangkan bahan bangunan dari luar wilayah Baduy. Selain itu, Jembatan Bambu Baduy adalah penanda yang memisahkan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Ke Baduy Tanpa Pemandu
Leuit, Rumah Penyimpanan Makanan (Padi) Suku Baduy

Di Baduy ini kalau ku denger Eris dan Ibunya berbincang, mereka menggunakan Bahasa Sunda, kalau aku nggak salah ya. Pokoknya yang jelas bukan Bahasa Jawa deh, mirip-mirip kayak Bahasa Sunda yang sudah familiar ku dengar. Tapi, mereka juga bisa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Cuman, Bahasa Indonesia yang lebih ke arah bahasa baku. Kayak pertanyaan Ibu Eris yang menggunakan kata "tidak" pada paragraf sebelumnya.

Di rumah Eris, selain melihat Eris sedang menenun aku juga membeli cindera mata yang mereka buat. Ikat kepala tenun dan kain batik Baduy berwarna biru tua yang biasanya dipakai oleh orang Baduy Luar. Waktu beli ikat kepala tenun, aku agak sedikit bangga, soalnya bisa ngelihat langsung proses tenun yang dilakukan oleh Eris secara langsung. Ya walaupun bukan yang Eris tenun yang ku beli. Tapi, entah kenapa hal sekecil itu bisa menambah rasa memiliki ku akan budaya Indonesia.

Mata Pencaharian Suku Baduy

Lain halnya dengan ketika membeli batik Baduy. Saat berbincang dengan Ibu Eris, yang aku nggak tau namanya siapa, nggak tanya soalnya, selain berladang, mata pencaharian mereka adalah membuat cindera mata khas Baduy. Termasuk tenun dan batik yang ku beli. Ibu Eris bercerita, kalau warga Baduy Luar yang berdomisili dekat Terminal Ciboleger rerata membeli cinderamata yang mereka buat dan kemudian menjualnya langsung kepada turis yang datang ke Baduy. Karena emang, Baduy Luar yang dekat Terminal Ciboleger, disekitaran Terminal Ciboleger juga jalanan menuju pintu gerbang penanda memasuki kawasan Perkampungan Suku Baduy, banyak penjaja cinderamata dan hasil bumi dari Baduy.

Karena cerita tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk membeli tenun ikat kepala dan batik khas Baduy yang mereka buat. Entah aku yang salah menangkap apa yang disampaikan oleh Ibu Eris, atau Ibu Eris yang kurang menerangkan secara rinci, waktu membuka batik Baduy yang ku beli ketika sampai di Rumah, ada label merk batik dengan bertuliskan alamat pembuat batiknya, yang ternyata beralamat di Solo.

Setelah mengetahui hal tersebut, aku jadi rada kecewa. Aku jadi mikir, ini orang Baduy emang bisnisnya begini dalam tanda kutip kotor; Atau emang terjadi kesalahpahaman komunikasi aja. Karena seperti yang ku bilang tadi, orang Baduy bisa ngomong Indonesia, tapi dengan Bahasa Indonesia baku. Mungkin, mereka juga nggak ngerti apa yang ku omongin. Mungkin juga aku yang nggak bisa menangkap apa maksud yang ingin mereka sampaikan.

Batik Suku Baduy

Jadi saran ku, kalau mau beli batik Baduy, buang angan-angan kebanggan mu kalau kamu beli barang otentik tersebut yang langsung dari si pembuatnya. Karena, menurut label merk yang ku baca, bukan mereka yang membuat batik Baduy tersebut. Tapi niatkan aja membeli batik Baduy untuk membantu perekonomian mereka. Karena kejadian tersebut, aku juga sanksi mengenai tenun ikat kepala yang mereka buat. Apakah buatan mereka sendiri atau bukan. Tapi, karena bisa melihat langsung proses menenun, jadi ada kepuasan tersendiri. Sama kayak Batik Baduy, beli cindera mata yang mereka buat, niatkan untuk membantu perekonomian mereka.

Oh ya, bayarnya pakai duit ya. Di Baduy Luar, rerata udah pada mengenal duit orang-orangnya. Jajanan anak-anak macam nutrijel dan ciki-ciki juga banyak dijual di wilayah Baduy Luar. Air mineral juga banyak.

"Eris tidak mainan handphone?" Tanya ku pada Eris yang masih serius menyelesaikan tenunannya.

Eris hanya tersenyum manja, sebelum Ibu Eris menjawab "Tidak, di sini tidak boleh mempunyai elektronik"

Dari percakapan tersebut aku jadi tau, selain karena emang nggak ada listrik, emang masyarakat di kampunya Eris ini masih mengharamkan hp digunakan di sana. Ibu Eris pun bercerita mengenai warga Baduy Luar di dekat Terminal Ciboleger yang banyak anak-anaknya sudah mulai kecanduan menggunakan gawai. Menurut cerita ibu Eris, biarpun di Baduy nggak ada listrik, mereka tetap bisa mengisi baterai gawai mereka. Itu bukan berkat kesaktian suku Baduy. Tapi, merupakan bentuk "mengakali adat". Mereka turun ke Terminal Ciboleger untuk mengisi daya baterai gawai di warung-warung bukan milik warga Baduy yang emang menjajakan fasilitas tersebut.

Rumah Perkampungan Suku Baduy Tanpa Pemandu
Eris, Anak Baduy yang Cantik Alami Tanpa Skin Care

Oh ya, waktu mengunjungi Baduy tempo hari, aku sama sekali nggak mengeluarkan biaya apapun. baik itu berbentuk retribusi, iuran, sukarela atau bahkan palakan sekalipun. Duit yang ku keluarkan waktu itu cuman untuk membeli jas hujan sekali pakai, beli air mineral dan beli ikat tenun serta kain batik Baduy saja.


Sampai di sini, rasanya aku udah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan Baduy lebih jauh lagi. Karena apa yang kurasakan saat di Baduy waktu itu, hanya sebatas itu saja. Waktu yang ku gunakan saat itu untuk mengunjungi Baduy rasanya masih sangat kurang. Pengen rasanya mengulik Baduy lebih dalam lagi. Pengen rasanya kembali ke Baduy lagi. Bermalam di sana. Merasakan menjadi orang Baduy. Ku berharap suatu saat bisa merasakannya. Kalau bisa, ke Baduy Dalam juga sekalian. Ada yang mau ikutan?

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

Back to Top