Rabu, 26 Agustus 2020

Dua Puluh Enam ke 26

Mungkin ini salah satu postingan yang nggak akan ku share kemana-mana. Karena, emang kebiasaan ku yang nggak suka begitu. Tapi, aku selalu punya tradisi berusaha untuk membuat postingan setiap tanggal 26 di bulan delapan. Bukan untuk merayakan, juga bukan untuk batu loncatan atau untuk memberitahu dunia kalau ini hari ku. Sebagai blogger, ya walaupun abal-abal gini, kado terindah adalah bisa membuat postingan tepat di hari lahirnya. Itu menurut ku, mungkin menurut orang lain, ya beda lagi.


Kalau postingan tahun kemarin ngomongin nikah, kali ini aku akan bahas perihal siapa yang akan dinikahi.

1. Template Kediupan yang Sebagaimana Mestinya

Tahun kemarin, sosok tersebut belum ada. Tapi, pertengahan antara 26 di tahun lalu dengan 26 di tahun sekarang, sebenarnya ada yang mengisi. Jadi, bisa dikatakan aku tidak benar-benar kosong. Ku kira, tahun ini sosok tersebut sudah hadir. Tapi ternyata tidak. Perihal tersebut, tentu aku tidak akan menyalahkan siapapun. Yang ku yakini, emang sudah seharusnya seperti itu, karena memang itu jalan yang Tuhan ciptakan.

Oh ya, tahun kemarin, aku sudah memprediksi kalau dari ketiga diantara aku, Anjas dan Yoga, aku akan menjadi yang paling terakhir untuk merasakan yang namanya menikah. Pun juga sudah ku buatkan postingan blog tentang itu, judulnya Menikah Pakai Sistem Zonasi? (yang mau baca, bisa cari di blog ya). Sepertinya, hal tersebut akan menjadi kenyataan. Yoga, yang tahun kemarin telah berhasil menikah, sekarang bersiap menjadi bapak-bapak. Sementara Anjas, sudah bersiap untuk melangsungkan momen sakral dalam hidupnya.

Sepertinya, tahun ini akan menjadi tahun yang istimewa, 26 di 26 tahun akan menjadi angka yang akan terus menemani sampai tahun depan sebelum menginjak 27. Temen-temen sebaya, entah itu dari SD, SMP, SMA atau mungkin saat kuliah pun, mungkin sudah mulai menata hidupnya masing-masing. Banyak juga yang sudah berkeluarga. Yaa... seperti template kehidupan yang selama ini sudah puluhan tahun dikenal di republik ini. Entah kenapa, sedari dulu hidup ku emang dirancang nggak sesuai template. 26 tahun yang lalu, aku jadi ingat cerita orang tua ku "Kamu ini harusnya lahir bulan depan. Tapi kenapa kamu malah milih keluar duluan" begitulah kira-kira kalimat yang sampai saat ini masih ku ingat. Nggak gitu sih emang ngomongnya, cuman biar lebih dramatis aja, jadi ku tulis gitu.

Karena hal tersebut di atas, aku jadi punya bayangan kalau hidup ya nggak cuman kayak template aja. Seperti yang sedang ku jalani sekarang, yang mungkin berbeda sangat jika dibandingkan dengan template yang ada. Nggak ada yang salah, entah hidup sesuai dengan template atau membuat template baru. Pun hidup sesuai template, pasti juga ada perbedaan-perbedaan yang pada dasarnya, menciptakan template baru. Setiap tanggal ini berulang, aku selalu tidak pernah punya harapan atau cita-cita yang terungkapkan, terpatri atau terbayangkan. Hidup ku mengalir aja. Entah kemana pun air mengalir, aku berusaha beradaptasi untuk menikmatinya.


2. Podcast Deddy Corbuzier dengan Jeremy Teti

Tepat di hari ini pula, aku lihat podcast Deddy Corbuzier dengan Jeremy Teti, aku nggak pernah mengharapkan kado apapun dan dari siapapun. Kalau dikasih ya terima, kalau enggak ya itu lebih baik. Namun lain halnya dengan hari ini pada saat ini, podcast Om Deddy seakan menjadi kado tak terduga buat ku. Iya, aku memang mengklaim hal tersebut secara sepihak. Ku tau, podcast tersebut memang bukan buat ku. Akan ada jutaan orang yang siap untuk melihat dan mendengarkan podcast tersebut. Tapi, isi dari podcast tersebut seakan mengingatkan ku pada suatu hal yang perlahan-lahan ku lupakan.

 
Akhir-akhir ini aku merasa, hidup nggak sesuai template ternyata menyebalkan. Pada usia sekarang, yang dulu aku satu kelas sama temen ku waktu sekolah, mungkin hidupnya udah sesuai dengan template kehidupan yang sebagaimana mestinya. Hingga rasanya, template yang sengaja ku ciptakan sendiri ini mulai terlihat lebih banya sisi tidak menariknya dibanding sisi menariknya. Bayang-bayang nikmatnya hidup yang sesuai dengan template kembali merayu ku. Ingin rasanya seperti itu, seperti teman-teman ku. Apalagi saat usia sekarang, seharusnya templatenya nggak begini, nggak sesuai dengan apa yang ku jalani sekarang.

3. Kado Terindah

Tapi, kado istimewa dari Om Deddy seakan menghancurkan itu semua. Aku kembali jadi merasa menjadi Bayu seperti 26 tahun yang lalu. Saat divonis tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Saat hidup ku hanya bergantung pada hangatnya lampu inkubator. Saat asupan makan ku selama tiga minggu didistribusi melalui selang-selang kecil menakutkan milik rumah sakit. Hingga akhirnya aku berhasil mengalahkan semua prediksi manusia. Aku yang pada saat pertama kali mengendus bau dunia udah divonis mau mati, bisa bertahan hidup sampai sekarang ini. Sampai aku tersadar, ternyata sudah begitu banyak hal yang ku lakukan di dunia ini. Yang mungkin nggak akan bisa ku dapatkan atau lakukan ketika keinginan ku akan kehidupan yang sesuai template kekeh ku perjuangkan.

Kembali ke Podcast Om Deddy dengan Jeremy Teti...

Dilain sisi, sampai seusia sekarang aku masih merasakan hal-hal yang dianggap mahal bagi orang yang menjalankan hidup sesuai dengan template kehidupan yang semestinya. Aku masih bisa merasakan omelan orang tua yang bisa dengan langsung saja terlontar tanpa bantuan alat komunikasi yang semakin canggih. Masih bisa bertukar pikiran tentang berbagai macam hal. Masih bisa kemana-mana bersiap sedia duduk dibalik kemudi dengan penumpang orang-orang yang selama 26 tahun ini selalu menjadi latar belakang apapun situasi yang kuhadapi. Ternyata bener juga apa kata Jeremy Teti dalam Podcast Deddy Corbuzier yang tadi ku dengarkan.

Banyak bayangan masa kecil yang terlintas dan kemudian membuat ku merasa teramat bersyukur dengan apa yang sudah ku punya dan ku jalani selama ini. Bentar, tulisan ini ku buat bukan untuk dijadikan sebagai bahan perdebatan untuk menentukan pilihan hidup terbaik antara sesuai dengan tempate atau tidak sesuai dengan template. Tidakkk... aku tidak membuat tulisan ini dengan tujuan tersebut. Aku hanya berusaha memberi kado untuk diri ku sendiri, juga mengapresiasi Podcast Deddy Corbuzier dengan Jeremy Teti yang entah kenapa keluar ditanggal ini. Kayaknya emang dunia ini sudah ada yang mengatur. Disaat aku berpikir semuanya mulai menjadi tidak baik, ternyata ada hal baik yang menghalanginya.

4. Selamat Ulang Tahun, Luna Maya!

Oh ya, dengan ini aku juga mau mengucapkan selamat bertambah usia bagi Luna Maya. Nggak tau yang keberapa. Tapi yang jelas perempuan yang kayak Luna Maya ini ada lagi nggak sih? Yang umurnya dibawah ku gitu. Kembali lagi ke bahasan awal pada postingan blog ini, nah ini nih... aku mau nih nikah sama yang kayak Luna Maya gini wkwkwkwkwk. Etapi yang kayak Cinta Laura juga boleh sih. Tanpa mendeskreditkan agama manapun, faktanya Cinta Laura pakai kerudung pun cantiknya nggak ilang-ilang. Nambah malahan. Cinta Laura berkerudung, oke juga ya? Btw, ini pujian ya. Pujian kalau Cinta Laura itu emang bener-bener cantik Bukan cat caling atau istilah tai lainnya yang menjurus ke pelecehan seksual.

Cinta Laura Kiehl Berkerudung

Sepertinya pertanyaan-pertanyaan yang ku ungkapkan pada postingan kali ini sudah terjawab semuanya. Itu tandanya ini saat yang tepat untuk mengakhiri postingan ini.

Baca Juga: KKN Sepanjang Masa

5. Kesimpulan

Apapun jenis kehidupan yang selama ini atau saat ini sedang kamu jalani, nikmati lah. Semua sudah ada yang mengatur. Semua memiliki keuntungan, kelebihan serta kerugian dan kekurangan masing-masing. Tidak ada hidup yang sempurna jikal dilihat secara keseluruhan. Bandingkan kehidupan mu dengan kehidupan orang lain. Bukan untuk menimbulkan rasa iri. Tapi, untuk memupuk rasa syukur tentang semua hal yang sudah Tuhan berikan dan bisa kamu nikmati hingga hal-hal sekecil apapun itu.

Kehidupan sesuai atau tidak sesuai dengan template adalah istilah tai yang ku pilih hanya untuk lebih mendramatisir tulisan di atas. Itupun kalau berhasil. Kalau enggak, yaudah, nggak apa. Toh ini blog pribadi ku, nggak ada batasan apapun yang mau ku bagikan atau ku tulis di sini kecuali aku yang membatasinya sendiri. Jadi, nikmati hidup, apapun yang tersedia di hadapan mu sekarang. Banyak orang yang mau jadi kamu, mau memiliki kahidupan mu. Tapi, cuman mau enaknya doang. Belum tentu orang itu mampu menghadapi nggak enaknya hidup, yang nyatanya bisa kamu hadapi sampai sekarang.


Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

Back to Top