Senin, 01 Juni 2020

6 Tahun Revolusi Mental, Hasilnya Kayak Gini?


Siapa yang merasa revolusi mental yang merupakan program Presiden Jokowi yang dimulai sejak 6 tahun lalu adalah produk gagal? Karena revolusi mental malah menghasilkan hal-hal yang tidak semestinya. Keadaan bukannya semakin membaik, tapi malah cenderung semakin memburuk. Jadi, apakah revolusi mental ala Presiden Jokowi hasilnya cuman begini doang?

Dana Bantuan Langsung Tunai Desa tidak tepat sasaran. Tidak mematuhi himbauan pemerintah. Demo-demo anarkis. Berita hoaks semakin merajalela. Korupsi masih aja jadi barang biasa. Serta banyak hal buruk lainnya, yang mungkin 6 tahun lalu, itu nggak separah sekarang. Bertepatan pula dengan program revolusi mental dari Presiden Jokowi menggema dan kemudian menjadi daya jualnya hingga bisa memenangkan pemilihan presiden kala itu. Jadi, bisa dibilang, Revolusi Mental ala Presiden Jokowi sudah berusia kurang lebih 6 tahun berjalan. Ibarat manusia, udah mulai masuk sekolah dasar.


Tapi, dengan kita semua tau bahwa kenyataan di lapangan seperti yang sudah kita lihat, dengar dan saksikan bersama-sama bahwa keadaan sepertinya terlihat semakin memburuk. Slogan atau jargon Revolusi Mental seakan dikebiri. Parahnya, gaungnya bahkan sudah tidak terdengar lagi. Seakan-akan slogan ini nggak ada harga dirinya lagi sekarang. Malah tergilas karena ternyata slogan tersebut ya cuman slogan doang yang nggak lebih dibanding ya hanya slogan aja. Setelah bergeming sedemikan kencang, mungkin seluruh penjuru Indonesia tau, hingga sekarang Revolusi Mental yang hanya tinggal menjadi masa lalu saja. Kalah tenar dibanding berita-berita buruk yang tidak menjadi cerminan Revolusi Mental tadi.

Itu artinya, bisa dipastikan kalau JOKOWI GAGAL?


Karena daya jual yang digaungkan sewaktu kampanye pemilihan presiden, adalah revolusi mental. Dan sekarang Revolusi mental sudah tidak ada apa-apanya lagi. Artinya, daya jual yang selama ini menjadi harapan banyak orang, gagal tercapai hingga sekarang. Lantas, apakah dapat disimpulkan kalau Presiden Jokowi sudah gagal?

Terlebih ditengah pendemi seperti ini. Sudah lebih dari satu bulan, keadaan belum memperlihatkan perkembangan positif. Menurut ku, keadaan ini hanya tinggal menunggu teriakan Turunkan Presiden menggema saja.

Seperti itu kira-kira gambaran yang mungkin akan terjadi sekarang dan yang akan datang.

Kembali lagi ke pertanyaan besar di atas, Apakah JOKOWI GAGAL dengan program revolusi mentalnya?

Menurut ku sih enggak sepenuhnya salah presiden. Kita sebagai masyarakat, sudah seharusnya berkaca diri. Apakah selama ini sudah mencerminkan dan melaksanakan kebiasaan merevolusi mental ala Jokowi? 

Nggak kerasa? Ya emang. Soalnya belum pernah diajarin langsung kan?

Tapi kamu berharap Pak Jokowi akan turun ke lapangan untuk hanya sekedar mengajari mu? Dengan gaya khas blusukannya?

Jangan harap!

Presiden kerjaannya nggak cuman ngurusin satu dua orang yang punya vokal dan tingkat keegoisan yang tinggi kayak kamu aja. Ada ratusan jutaan manusia lainnya yang mungkin memiliki harapan serupa dengan apa yang kamu ingin rasakan. Yaitu, pengen diajarin langsung sama Pak Jokowi.

Tapi itu nggak akan terjadi. Sangat mustahil untuk terjadi. Kalau semua menganggap Presiden Jokowi gagal merepresentasikan dan mengajarkan revolusi mental kepada masyarakatnya, lalu kemudian menganggap dan memberikan cap kalau Presiden Jokowi ini gagal, menurut ku itu suatu kebangetan yang sudah nggak bisa ditolelir lagi.

Masih nyontek waktu ujian? Masih copy paste kerjaan orang lain? Masih nggak pakai helm waktu berkendara? Masih harus diingetin kalau ngendarain mobil harus pakai sabuk pengaman? Masih melanggar rambu lalu lintas? Masih buang sampah semarangan?

Dan kamu berharap Pak Presiden Jokowi akan, bisa dan mampu untuk memperbaiki ini semua dengan Revolusi Mentalnya?


Mustahil!

Tanpa ada kerjasama dari masyarakatnya. Tanpa ada perasaan membantu dari masyarakatnya. Tanpa ada kesadaran diri dari masyarakatnya. Tanpa ada kesukarelaan dari masyarakatnya. Tanpa adanya sikap patuh dari masyarakatnya.

Sampai kapan pun, bahkan sampai Revolusi Mental 5.0 sekalipun, kalau keadaan masyarakatnya masih seperti itu, tentu tidak akan berhasil.

Sampai kapan kita akan menyalahkan presiden? Sampai kapan kita akan mendeskreditkan presiden? Sampai kapan kita akan memberikan cap negatif kepada presiden? Sampai kapan kita akan menjelek-jelekkan presiden?

Kalau kayak gitu siatuasinya, siapapun presidennya, tidak akan ada perubahan.

Kenapa sih semua presiden Indonesia dilihat hanya dari sisi negatifnya saja? 

Bukan Revolusi Mental ala Jokowi yang gagal. Tapi, masyarakatnya yang belum mau merevolusi diri.

Pun pendapat ku mengenai situasi sekarang yang tinggal menunggu teriakan TURUNKAN PRESIDEN JOKOWI, semoga pendapat ku salah. Semoga hal itu tidak akan terjadi. Karena kalau sampai itu terjadi, Indonesia mengalami kemunduran.

Kapan Indonesia akan semakin baik kalau masyarakatnya aja nggak mencintai presidennya?

Kapan Indonesia akan semakin maju kalau masyarakatnya aja benci sama pemerintahnya?

Ingat, yang kita lawan adalah Coronavirus. Bukan Presiden Jokowi. Bukan Pemerintah Indonesia. Bukan Keputusan Presiden. Bukan kebijakan pemerintah. Yang kita lawan adalah Coronavirus.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Menghadapi situasi yang tidak menentu dan mungkin baru kali ini kita semua benar-benar baru menyaksikan dan mengalaminya, langkah yang paling bijak adalah mematuhi himbauan pemerintah. Ya, walaupun memang hanya himbauan saja. Siapapun berhak buat mematuhi atau bahkan tidak mematuhinya. Tapi, karena ini merupakan masalah bersama, nggak cuman di Indonesia saja, karena masyarakat dunia pun mengalaminya, langkah yang paling tepat menurut ku adalah mematuhi himbauan pemerintah.

Walaupun aku yakin akan banyak yang menentang, banyak yang meragukan, pun termasuk aku meragukan New Normal Life atau Kenormalan Baru yang dicanangkan pemerintah, tapi alangkah tetap lebih baik dan lebih bijaknya adalah mematuhi himbauan pemerintah. Biar semuanya lekas selesai, dan kita bisa menikmati hidup normal seperti biasa. Tanpa ada imbuhan new di depannya.



Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

Back to Top